Bersamaku Di Istana Bintang

Baca Juga :
    Judul Cerpen Bersamaku Di Istana Bintang

    Mobil berwarna silver itu melaju kencang di jalanan yang cukup lengang. Di dalamnya seorang gadis berada di balik kemudi mobil itu. Hujan semakin deras mengguyur. Isak tangisnya tak juga berhenti sedari tadi. Rasanya ia ingin mati saat itu juga. Untuk pertama kali, ia benci pada bintang-bintang di langit. Bintang-bintang yang ia harapkan akan memberikannya kebahagiaan bersama orang yang ia inginkan.

    Di sebuah padang rumput yang luas, seorang gadis sedang duduk di atas rumput. Di sampingnya, berbaring seorang laki-laki yang sedang melihat indahnya awan pada siang itu.
    “Apa hal yang paling kau suka?” Tanya laki-laki itu pada sang gadis
    “Aku suka melihat langit.” Jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya dari langit
    “Apa yang paling kau inginkan?” Tanya laki-laki itu sekali lagi
    “Hidup bersama orang yang aku inginkan di istana bintang.” Jawab sang gadis
    Jawaban gadis itu mampu membuat laki-laki itu duduk tegak di sampingnya. Ia menatap gadis yang ia sayangi itu penuh dengan cinta. Rambutnya yang terkena angin lembut di padang rumput itu membuatnya jatuh cinta lagi, sama seperti pertama ia bertemu dengannya. Senyum manisnya, mata teduhnya, dan indah bibirnya.
    “Kau mau kubuatkan istana bintang untukmu?” Kembali laki-laki itu bertanya
    “Tidak.” Kali ini gadis itu memalingkan pandangannya dari langit
    “Kenapa?” Tanya laki-laki itu terkejut
    “Karena aku ingin kita berdua yang membuat istana bintang itu, hanya untuk kita.” Ia tersenyum.
    Laki-laki itu tersenyum lalu memeluk gadisnya, “Aku jatuh cinta lagi padamu”

    Malam semakin larut, namun Kara tetap melajukan mobilnya menuju rumah Deva. Ia menemukan dompet Deva yang tertinggal di mobilnya tadi siang. Awan mendung mulai menyelimuti langit malam itu. Membuatnya semakin gelap.
    Tak berapa lama, ia sampai di rumah Deva. Tapi, bukan Deva yang ia temui. Melainkan seorang gadis yang umurnya tak jauh lebih muda dari dirinya. Ia sedang mengelus lembut perutnya yang tampak besar.
    Marah, kecewa, takut, perasaan itu mulai memenuhi hatinya. Ditambah dengan Deva yang keluar dari dapur membawakan segelas susu lalu diberikan kepada wanita hamil itu. Deva kemudian menyadari kehadiran Kara yang sedari tadi berdiri terpaku di ambang pintu.
    “Keterlaluan, siapa dia?” Tanya Kara dengan air mata yang mulai membnjiri pipinya
    “Aku bisa jelaskan.” Ujar Deva lalu menghampiri Kara.
    Semakin Deva mendekat, semakin jauh Kara melangkah. “Kamu sudah merusak impianku. Kamu tidak pantas menjadi orang yang membangun dan tinggal bersamaku di istana bintang. Istana bintang yang selama ini aku inginkan, tak akan pernah bisa kubangun.” Ucap Kara penuh dangan kemarahan.
    “Kara, aku bisa jelaskan semua.” Deva berusaha menenangkan Kara dengan memeluknya. Kara semakin berontak, “Jangan sentuh aku!”. Kara kemudian berlari menuju mobilnya, menjatuhkan dompet Deva yang sedari tadi ia genggam erat. Dompet itu terjatuh dalam keadaan membuka, menampakkan foto Deva, orangtuanya dan gadis hamil yang sedari tadi hanya dapat diam dan melihat perkelahian antara Deva dan Kara.

    Suara mesin rumah sakit terus berdenting sedari tadi. Deva yang sedari tadi duduk di sudut ruangan rawat inap sebuah rumah sakit tak henti-hentinya berdo’a. Kecelakaan yang membuat gadis yang dicintainya itu terbaring lemah di ruangan itu, menciptakan rasa penyesalan yang sangat mendalam bagi dirinya. Kara yang perasaannya sangat kacau malam itu tak sengaja menabrak trotoar dan membuatnya mengalami benturan yang cukup keras di kepalanya. Ditambah jalanan yang licin membuat mobilnya sulit dikendalikan.

    Kini, Deva hanya dapat melihat gadisnya itu berjuang untuk hidup. Selang dan alat bantu pernapasan menutupi wajah cantiknya. Infus terpasang di kedua lengannya. Perban juga sudah terbalut di kepalanya. Sungguh, Deva tak mampu melihat gadisnya seperti itu. Namun, Deva juga tak ingin meninggalkannya.

    Perlahan Kara menggerakkan jarinya dan membuka matanya. Membuat Deva menghampirinya lalu menggenggam erat tangan Kara. “Deva?” Ucap Kara lirih
    “Iya, ini aku” Jawab Deva di iringi tetesan air mata. “Kau harus bertahan. Tepati janjimu, kita akan bangun istana bintang paling indah yang kau inginkan.” Ucap Deva dengan menggenggam tangan Kara. Kara hanya bisa tersenyum lalu mengangguk perlahan, “Tapi aku harus dapat penjelasan dulu, siapa gadis berperut besar itu”. Deva kemudian tertawa perlahan diikuti tawa lirih Kara.

    Cerpen Karangan: Laila Yuni Septiarini

    Artikel Terkait

    Bersamaku Di Istana Bintang
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email