Judul Cerpen Berawal Dari Kebencian
“Kringgg” bel sekolah berbunyi menandakan waktunya untuk masuk ke kelas, hari ini adalah hari pertamaku masuk SMA. Namaku Dana Syahputra, biasanya orang memanggilku Dana. Aku baru masuk SMA N di Bandung, sebenarnya aku tinggal di Jakarta tapi aku ikut ayahku ke Bandung karena urusan kerja. Karena aku baru kali ini sekolah di Bandung jadi aku agak canggung.
“Hai, boleh duduk disini gak?” Tanya salah satu siswa yang juga baru masuk SMA ini. “Oh, iya silahkan” jawabku yang masih malu-malu. “Oh ya, namaku Adzam, namamu siapa?” sapa sekaligus tanyanya. “Namaku Dana” jawabku. Hanya sampai disitu perbincangan kami karena 2 anggota OSIS masuk ke dalam kelas. Dengan ramah anggota-anggota OSIS itu memperkenalkan diri mereka. “Hai nama kakak Stefanny dari kelas XI-1” sapa salah satu anggota OSIS itu “kalau nama kakak Sakha dari kelas XI-5” sahut anggota OSIS lainnya.
Saat tiba waktu pelajaran agama tiba, kami diperintahkan untuk ke masjid sekolah. Saat aku berjalan aku menabrak seorang siswi yang sedang melepaskan sepatu. “Ih, bengong terus sih asal nabrak orang aja” marahnya, selepas itu pun dia langsung pergi, dalam hati ku berkata “idih jutek amat nih orang”.
Setelah 3 hari masa orientasi selesai wali kelasku masuk ke kelas untuk perkenalan, menentukan struktur kelas, dan tempat duduk siswa. Setelah perkenalan dan menentukan struktur kelas ditentukanlah tempat duduk siswa, ternyata Adzam dipindahkan dan digantikan dengan siswi tadi yang kutabrak. “ya elah lo lagi lo lagi” katanya yang jutek itu. Aku yang diam tak bersuara hanya bergumam dalam hati “yaelah emang gue mau duduk ama lo” akhirnya aku memutuskan untuk berkenalan “oh ya, nama gue Dana, nama lo siapa?” tanyaku “ih kepo banget lo mau tau aja nama gue” jawabnya, aku hanya terdiam dan tidak menghiraukannya.
Di saat jam istirahat si cewek jutek itu membawa minuman dan dia kepeleset dan menumpahkan minumannya bajuku, dan kali ini aku tidak hanya diam “aduh lo itu gimana sih kepeleset pake numpahin minuman segala” marahku. “Eh gue juga ga sengaja kali numpahin, mana ada sih orang yang mau kepeleset, lo bukannya bantuin malah ngomel-ngomel” sahutnya dengan nada tinggi kepadaku “yee kan lo yang numpahin, ngapain gue bantuin lo, bukannya minta maaf malah ngoceh ga jelas” sahutku sedikit jengkel. Di saat itu pun Adzam dengan tiba-tiba datang “Dan kamu ngapain, kok tadi aku lihat kamu kayak marah-marah gitu?” Tanya Adzam “tuh dia noh numpahin minuman malah ngomel bukannya minta maaf” kataku “udahlah kalo berantem terus entar kalian berdua malah masuk BK loh, ya udah mendingan pada minta maaf” katanya. “ya udah deh gue minta maaf” kata si cewek jutek itu “iya gue juga minta maaf ya” kataku “nah gitu donk ya udah yuk pada masuk kelas” sahut Adzam.
Di keesokan harinya ada pelajaran olahraga dan diperintahkan ke lapangan, dan materi pada hari itu tentang basket. Pada saat praktek basket timku melawan tim si cewek jutek itu, secara tidak sengaja aku tersandung salah satu siswa hingga kakiku terluka. Aku langsung dibawa ke UKS, bukan anggota PMR yang menanganiku karena ada tour dari sekolah tapi si cewek jutek itu. “sebentar ya aku ambil obat merah dulu” katanya. Dengan perlahan dia mengobati kakiku yang masih mengeluarkan darah, “maaf ya agak sakit sedikit soalnya lukanya lumayan parah, ini harus diperban” katanya “kok lo bisa ngobatin sih?” tanyaku yang agak kepo “di SMP kan gue anggota PMR” jawabnya yang masih memerban kakiku. “oh iya ngomong-ngomong nama lo siapa kita kan belum kenalan” tanyaku. “nama gue Alya” jawabnya dengan lembut. Dalam hatiku berkata “ternyata ni cewek baik juga ya”.
Semenjak hari itu kami tambah akrab dan akur, tidak seperti dulu yang masih jutek-jutekan. Dan yang dulunya biasanya manggil lo gue sekarang jadi aku kamu. Tapi tidak lama kemudian dia ternyata sakit dan gak masuk sekolah selama 1 minggu, ketika dia masuk aku langsung ngepoin dia. “Kok seminggu ini kamu gak masuk Al, kamu sakit apa?” tanyaku. “Aku kena cacar Dan” jawabnya. “lh kok udah masuk sekolah emang udah gak sakit?” Tanyaku lagi. “Tenang udah gak kok, kalo kelamaan aku takut ada yang ngangenin aku” jawabnya dengan nada agak nyindir. aku yang hanya tersenyum karena tersipu malu.
Aku setiap hari jadi memikirkan dia, karena dia selalu ada bersamaku aku jadi berfiikir apa aku suka sama dia? Aku hanya tersenyum hingga Adzam datang dan menegurku yang sedang melamun. “Dan dari tadi kok dilihat-lihat kayaknya senyum-senyum aja nih lagi mikirin siapa sih? Lagi mikirin si Alya yah” tanya Adzam “eh, gak kok” jawabku singkat. “alah Dan jangan bohong deh aku tau kamu pasti lagi mikirin Alya kan? Kamu suka ya sama dia?” Tanya Adzam yang penuh dengan kepo. “Iya sih aku lagi mikirin Alya, kayaknya aku suka deh sama dia, gimana enggak dia itu baik, cantik, pinter” jawabku jujur. “Ya udah nyatain aja perasaan kamu ke dia pasti dia juga suka sama kamu” usulnya. “Iya deh Dzam besok aku coba doain ya Dzam” pintaku “iya tenang aja” jawabnya.
Di esok harinya aku mencoba menemui Alya, aku coba ajak dia berbincang terlebih dahulu, agak-agak nyindir. “oh ya Al kita kayaknya kita semakin hari semakin deket aja ya, padahal kan dulu kita suka berantem” kataku yang mengawali perbincangan “iya Dan padahal dulu kamu itu jutek loh hehehe” sahutnya dengan tertawa. “Al, kayaknya aku punya perasaan deh ke kamu” kataku “maksud kamu apa Dan” Tanyanya yang agak bingung “ya perasaan suka, aku itu suka sama kamu, aku mau kita lebih dari teman, kamu mau kan jadi pacar aku?” Tanyaku yang agak gugup “sebenarnya aku juga punya rasa yang sama ke kamu, dan aku mau kok jadi pacar kamu” jawab Alya sambil tersenyum “serius Al?” tanyaku yang masih agak gak percaya “iya Dan aku mau jadi pacar kamu” jawab Alya, dan ternyata Adzam nguping dari belakang dan mengejutkan kami berdua “cie cie jadian selamat ya” kata Adzam, kami berdua hanya tersipu malu “alah Adzam kamu ini nguing ternyata ada-ada aja kamu” kataku. Dan sampai sekarang aku masih menyayangi Alya.
Cerpen Karangan: Ana Aprilya
Facebook: Ana Aprilya
“Kringgg” bel sekolah berbunyi menandakan waktunya untuk masuk ke kelas, hari ini adalah hari pertamaku masuk SMA. Namaku Dana Syahputra, biasanya orang memanggilku Dana. Aku baru masuk SMA N di Bandung, sebenarnya aku tinggal di Jakarta tapi aku ikut ayahku ke Bandung karena urusan kerja. Karena aku baru kali ini sekolah di Bandung jadi aku agak canggung.
“Hai, boleh duduk disini gak?” Tanya salah satu siswa yang juga baru masuk SMA ini. “Oh, iya silahkan” jawabku yang masih malu-malu. “Oh ya, namaku Adzam, namamu siapa?” sapa sekaligus tanyanya. “Namaku Dana” jawabku. Hanya sampai disitu perbincangan kami karena 2 anggota OSIS masuk ke dalam kelas. Dengan ramah anggota-anggota OSIS itu memperkenalkan diri mereka. “Hai nama kakak Stefanny dari kelas XI-1” sapa salah satu anggota OSIS itu “kalau nama kakak Sakha dari kelas XI-5” sahut anggota OSIS lainnya.
Saat tiba waktu pelajaran agama tiba, kami diperintahkan untuk ke masjid sekolah. Saat aku berjalan aku menabrak seorang siswi yang sedang melepaskan sepatu. “Ih, bengong terus sih asal nabrak orang aja” marahnya, selepas itu pun dia langsung pergi, dalam hati ku berkata “idih jutek amat nih orang”.
Setelah 3 hari masa orientasi selesai wali kelasku masuk ke kelas untuk perkenalan, menentukan struktur kelas, dan tempat duduk siswa. Setelah perkenalan dan menentukan struktur kelas ditentukanlah tempat duduk siswa, ternyata Adzam dipindahkan dan digantikan dengan siswi tadi yang kutabrak. “ya elah lo lagi lo lagi” katanya yang jutek itu. Aku yang diam tak bersuara hanya bergumam dalam hati “yaelah emang gue mau duduk ama lo” akhirnya aku memutuskan untuk berkenalan “oh ya, nama gue Dana, nama lo siapa?” tanyaku “ih kepo banget lo mau tau aja nama gue” jawabnya, aku hanya terdiam dan tidak menghiraukannya.
Di saat jam istirahat si cewek jutek itu membawa minuman dan dia kepeleset dan menumpahkan minumannya bajuku, dan kali ini aku tidak hanya diam “aduh lo itu gimana sih kepeleset pake numpahin minuman segala” marahku. “Eh gue juga ga sengaja kali numpahin, mana ada sih orang yang mau kepeleset, lo bukannya bantuin malah ngomel-ngomel” sahutnya dengan nada tinggi kepadaku “yee kan lo yang numpahin, ngapain gue bantuin lo, bukannya minta maaf malah ngoceh ga jelas” sahutku sedikit jengkel. Di saat itu pun Adzam dengan tiba-tiba datang “Dan kamu ngapain, kok tadi aku lihat kamu kayak marah-marah gitu?” Tanya Adzam “tuh dia noh numpahin minuman malah ngomel bukannya minta maaf” kataku “udahlah kalo berantem terus entar kalian berdua malah masuk BK loh, ya udah mendingan pada minta maaf” katanya. “ya udah deh gue minta maaf” kata si cewek jutek itu “iya gue juga minta maaf ya” kataku “nah gitu donk ya udah yuk pada masuk kelas” sahut Adzam.
Di keesokan harinya ada pelajaran olahraga dan diperintahkan ke lapangan, dan materi pada hari itu tentang basket. Pada saat praktek basket timku melawan tim si cewek jutek itu, secara tidak sengaja aku tersandung salah satu siswa hingga kakiku terluka. Aku langsung dibawa ke UKS, bukan anggota PMR yang menanganiku karena ada tour dari sekolah tapi si cewek jutek itu. “sebentar ya aku ambil obat merah dulu” katanya. Dengan perlahan dia mengobati kakiku yang masih mengeluarkan darah, “maaf ya agak sakit sedikit soalnya lukanya lumayan parah, ini harus diperban” katanya “kok lo bisa ngobatin sih?” tanyaku yang agak kepo “di SMP kan gue anggota PMR” jawabnya yang masih memerban kakiku. “oh iya ngomong-ngomong nama lo siapa kita kan belum kenalan” tanyaku. “nama gue Alya” jawabnya dengan lembut. Dalam hatiku berkata “ternyata ni cewek baik juga ya”.
Semenjak hari itu kami tambah akrab dan akur, tidak seperti dulu yang masih jutek-jutekan. Dan yang dulunya biasanya manggil lo gue sekarang jadi aku kamu. Tapi tidak lama kemudian dia ternyata sakit dan gak masuk sekolah selama 1 minggu, ketika dia masuk aku langsung ngepoin dia. “Kok seminggu ini kamu gak masuk Al, kamu sakit apa?” tanyaku. “Aku kena cacar Dan” jawabnya. “lh kok udah masuk sekolah emang udah gak sakit?” Tanyaku lagi. “Tenang udah gak kok, kalo kelamaan aku takut ada yang ngangenin aku” jawabnya dengan nada agak nyindir. aku yang hanya tersenyum karena tersipu malu.
Aku setiap hari jadi memikirkan dia, karena dia selalu ada bersamaku aku jadi berfiikir apa aku suka sama dia? Aku hanya tersenyum hingga Adzam datang dan menegurku yang sedang melamun. “Dan dari tadi kok dilihat-lihat kayaknya senyum-senyum aja nih lagi mikirin siapa sih? Lagi mikirin si Alya yah” tanya Adzam “eh, gak kok” jawabku singkat. “alah Dan jangan bohong deh aku tau kamu pasti lagi mikirin Alya kan? Kamu suka ya sama dia?” Tanya Adzam yang penuh dengan kepo. “Iya sih aku lagi mikirin Alya, kayaknya aku suka deh sama dia, gimana enggak dia itu baik, cantik, pinter” jawabku jujur. “Ya udah nyatain aja perasaan kamu ke dia pasti dia juga suka sama kamu” usulnya. “Iya deh Dzam besok aku coba doain ya Dzam” pintaku “iya tenang aja” jawabnya.
Di esok harinya aku mencoba menemui Alya, aku coba ajak dia berbincang terlebih dahulu, agak-agak nyindir. “oh ya Al kita kayaknya kita semakin hari semakin deket aja ya, padahal kan dulu kita suka berantem” kataku yang mengawali perbincangan “iya Dan padahal dulu kamu itu jutek loh hehehe” sahutnya dengan tertawa. “Al, kayaknya aku punya perasaan deh ke kamu” kataku “maksud kamu apa Dan” Tanyanya yang agak bingung “ya perasaan suka, aku itu suka sama kamu, aku mau kita lebih dari teman, kamu mau kan jadi pacar aku?” Tanyaku yang agak gugup “sebenarnya aku juga punya rasa yang sama ke kamu, dan aku mau kok jadi pacar kamu” jawab Alya sambil tersenyum “serius Al?” tanyaku yang masih agak gak percaya “iya Dan aku mau jadi pacar kamu” jawab Alya, dan ternyata Adzam nguping dari belakang dan mengejutkan kami berdua “cie cie jadian selamat ya” kata Adzam, kami berdua hanya tersipu malu “alah Adzam kamu ini nguing ternyata ada-ada aja kamu” kataku. Dan sampai sekarang aku masih menyayangi Alya.
Cerpen Karangan: Ana Aprilya
Facebook: Ana Aprilya
Berawal Dari Kebencian
4/
5
Oleh
Unknown
