Tidur Untuk Tenang

Baca Juga :
    Judul Cerpen Tidur Untuk Tenang

    Perempuan dengan baju ungu yang duduk di teras itu adalah ibuku. Diana namanya. Seorang dengan wajah khas keturunan tionghoa dengan tubuh mungil dan mata yang sedikit merah karena terkena asap rok*k yang sering ia hisap. Dan itu menurun padaku. Bukan kulitnya atau wajahnya. Tapi kebiasaannya merok*k.

    “Luna! Sini kamu!” panggilnya.
    “Ya Mama?” kulemparkan kain lap yang kupakai membersihkan meja makan itu.
    “Kamu tuh kerjaannya ngapain aja sih? Tuh anak kamu belum makan! Lambat sih kerjanya!” bentaknya sambil menunjuk ke arah Byan, anak semata wayangku yang masih balita.
    Byan menoleh padaku sambil kebingungan mendengar suara neneknya yang keras seperti halilintar. Ia mengangguk dan berkata “Mammm.. iyah?”
    “Byan mau makan? Laper iyah?” tanyaku sambil menggendongnya.
    Kudengar Mama berkata sinis “Mau punya anak tapi gak bisa ngurus, yang diperhatiin Cuma diri sendiri aja!”
    Aku mendengus kesal. Seringkali aku dengar Mama bicara hal-hal yang menyakitkan hatiku. Tapi selama ini selalu kubiarkan dan tak kuhiraukan. Aku pikir Mama hanya sedang kerasukan ketika dia begitu padaku.
    Sambil berjalan menjauh masih kudengar Mama berkata hal-hal yang aneh. Sore itu kuhabiskan waktuku bermain dengan Byan di kamar daripada aku terus di situ sampai kupingku panas.

    Hari senin pagi adalah hari yang aku tunggu-tunggu. Pengumuman tentang diterima atau tidaknya aku di kantor itu. Pekerjaan yang selalu aku damba-dambakan. Dengan kemampuan bahasa Inggris yang lumayan, aku yakin kalau seorang Luna Areta Kemalasari bisa diterima. Seorang tour guide, cita-citaku sejak kecil.

    Aku menunggu notifikasi email di depan laptopku. Menatapnya kosong bergantian menatap Byan yang sedang makan biskuit pisang di sebelahku. Duh, tegang rasanya menunggu sesuatu yang kita harapkan datang.

    TING! Bunyi notifikasi email. Aku bergegas membukanya. Lalu kubuka dengan cepat. Dan disana tertera: SELAMAT KEPADA KANDIDAT TERPILIH. ANDA DAPAT SEGERA BEKERJA SECEPATNYA. Namaku ada di antara lima orang lainnya. Aku berteriak dan berjingkrak kegirangan. Mama menghampiriku.
    “Apa?” katanya
    “Apanya yang apa, Ma?”
    “Itu kamu ngapain teriak-teriak?”
    “Ini, Ma.. Luna keterima kerja di perusahaan asing jadi tour guide! Hebat, kan? Dari 70 orang, Luna jadi salah satu dari 5 orang yang kepilih. Pinter kan anak Mama?” tanyaku girang dan berharap Mama akan bangga dengan prestasiku kali ini. Tapi jawaban Mama sungguh terasa seperti petir di siang boloing.
    “Kuliah kamu beresin! Skripsi urusin! Anak urusin! Jadi tour guide kok bangga? Sama aja kaya babu!”
    “Astaga Mama..” aku hanya bisa menatapnya bingung dan lantas menundukkan kepalaku. Tangisku pecah. Bersamaan dengan Byan yang menangis ingin minum susu.
    “Sana urusin anaknya! Berisik!” sambar Mama lagi.

    Aku menikah dengan Yoga karena aku hamil. Kuliahku tertunda 2 tahun. Mungkin saja Mama memang marah dan kecewa. Tapi segudang prestasiku selama ini tak pernah dihargai. IPK yang melambung naik, atau ketika aku menjadi penyanyi pembuka bagi band asal luar negeri, atau saat menjadi juara di berbagai perlombaan menyanyi, menjadi juara dalam olimpiade bahasa Inggris antar Sekolah Menengah Atas, bahkan ketika mendiang suamiku membelikan aku sebuah mobil keluaran paling baru pun tetap dijadikan bahan cemoohan oleh Mama Mama selalu menganggapku remeh.

    Aku menangis dan balas membentak Mama. “Mama itu kenapa sih? Seegitu hina aku di mata Mama? Selalu aja yang aku lakuin untuk banggain Mama gak cukup. Begitupun dengan adik-adik yang selalu berusaha menuruti semua keinginan Mama. Kenapa mama selalu menuntut kita untuk begini dan begitu?! Dan kenapa Mama gak segan-segan untuk maki-maki kita, khususnya aku di depan orang? Di depan keluarga??”
    Kukira ia akan luluh dan meminta maaf, tapi yang keluar dari mulutnya hanyalah segala yang membuat aku merasa seperti mati berdiri.
    “Heh!! Anak durhaka berani-beraninya kamu bentak Mama, hah?? Udah untung kamu Mama urus selama ini! Bukannya terimakasih malah gak tau diri! Mama nikahin kamu sama Yoga aja semestinya kamu mikir! Suami kamu udah meninggal bukannya cari kek kerjaan yang lebih bagus! Kamu kuliah segitu lamanya dan Mama biarin aja harusnya mikir! Kamu hamil diluar nikah terus Mama urus si Byan aja kamu yang harusnya bersyukur! Ini anak-anak gak ada satu pun yang bersyukur yang ngerti caranya memperlakukan Ibu! Mendingan kamu pergi dari rumah ini! Sana tinggal aja di rumah mertua kamu yang baik hati!”

    Aku berlari masuk kamar sambil menggendong Byan yang sedari tadi kututup sebelah kupingnya. Teganya Mama bicara kata-kata sekasar itu di depan anakku. Byan hanya duduk di pangkuanku sambil meminum susu di botolnya dan menatapku yang menangis. Satu hari pun tidak pernah aku merasa dihargai oleh Ibuku sendiri. Yang kudengar darinya selama ini hanya kata-kata yang menyudutkanku.

    Aku hanya merasa setelah kepergian Yoga untuk selama-lamanya karena kecelakaan 3 bulan lalu, semua hal benar-benar berjalan diluar nalarku. Kerasnya sikap Mama semakin menjadi-jadi. Terkadang aku pergi ke rumah mertuaku untuk menenangkan diri. Aku bersyukur mereka orang yang baik dan masih mau menampung aku dan Byan di rumah mereka meski Yoga sudah tiada. Tapi kali ini aku tidak kemana-mana. Aku mematung di hadapan Byan. Mata besar yang bersinar itu seperti malaikat yang menenangkanku tanpa aku harus meminum obat-obatan itu. Tapi kali ini aku sudah tak bisa menahan perih yang kusimpan rapih selama 24 tahun. Aku tidak tahan, Mama.
    Kutatap Byan dalam-dalam. Kucium dan kupeluk hadiah Tuhan yang paling istimewa itu.
    “Maafin Mami ya Byan, Mami gak tahan sama semua ini. Mami harus hadapin semua sendirian, Byan belum ngerti apa-apa. Biarlah ini jadi dosa mami. Sekarang kita berdua harus tidur yang lamaaa banget. Kita tidur yang tenang ya sayang, Mami sayang sama Byan” Kataku sambil memeluk Byan dan menangis tersedu-sedu.

    Telah kucampur susu Byan dengan obat penenangku. Kuteguk pula 10 butir obat dengan segelas kopi. Kulihat Byan perlahan menutup matanya dengan nafas yang sedikit terengah. Aku memejamkan mata dan menutup suara tangisku dengan bantal. Kubaringkan tubuhnya di atas kasur dan kuselimuti dia sampai lehernya. Wajah mungil itu terdiam dan pucat.
    Aku berjalan pelan menuju jendela. Membukanya dan menyalakan sebatang rok*k. Kutatap langit yang mendung sore itu sambil meminta maaf pada suamiku di surga. Lalu kubilang akan segera menyusulnya. Aku dan Byan. Kutenggak lagi kopi dan beberapa butir obat lainnya. Asap rok*k mengepul dari tengah jemari tangan kiriku. Seketika mataku seperti terkena aliran listrik. Aku buta. Lalu kurasakan nafasku ditarik begitu cepat. Batang rok*k yang menyala itu ikut jatuh bersama tubuhku.

    Pusara kami berdua sengaja diatur bersebelahan dengan pusara milik Yoga. Kulihat mama menitikkan air mata namun tertutup sebagian oleh kerudung hitam segi empat yang ia pakai ke pemakamanku dan Byan. Hari itu cerah dan begitu damai. Kini aku tenang. Tak ada lagi kata-kata yang menghunus ke dada. Aku, Byan dan Yoga kembali berkumpul bersama. Tidak ada hari yang lebih indah dari ini.

    Cerpen Karangan: Setyani Melati K.
    Facebook: facebook.com/setyani.kusumadewi

    Artikel Terkait

    Tidur Untuk Tenang
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email