Showing posts with label Cerpen Galau. Show all posts
Showing posts with label Cerpen Galau. Show all posts
Kesempatan

Kesempatan

Judul Cerpen Kesempatan

Kususuri koridor sekolah dengan gamang, rasa bersalah kian membesar dan menghantui pikiranku. tak kubayangkan bahwa Ravid akan semarah ini padaku, walaupun aku sadar dia pantas marah atas semua ini. Kalau saja waktu dapat diputar kembali, aku ingin mengulang waktu dan tak membiarkan hati lain mengusik rasa yang selama ini kujaga. Namun semua sudah terlanjur kualami dan aku tahu bahwa hubunganku dengan Diky yang terjalin secara sembunyi sembunyi akan diketahui oleh Ravid. Namun apa daya, kehadiran Diky begitu saja dalam hidupku membawa sebuah rasa yang tak kumengerti. Kujalani juga cinta segitiga ini walau ragu.

Pulang sekolah kuhempaskan tas dan seragamku di lantai, lalu merebahkan tubuh lelahku di ranjang. Hpku berdering, kubuka, pesan dari Diky. “ren, kok kamu pulang duluan sih? Alda bilang kamu ngambek, ada apa?” kuletakkan hpku tanpa membalas sms itu. Haruskah aku jujur pada Diky tentang akhir kisahku dengan Ravid, ataukah terus membohonginya dan membiarkan jiwaku diteror rasa bersalah?

Diky dan Ravid, sosok yang hampir sama. membuatku tak bergeming. Aku harus menanggung resiko dari kesalahanku sendiri. Kini yang kupunya tinggal Diky setelah Ravid meninggalkanku. Tapi mungkinkah Diky mau bertahan untukku saat mengetahui semua?.

Seminggu berlalu. Kebencian yang diisyaratkan Ravid padaku seakan tak berujung. Kuputuskan untuk jujur pada Diky tentang semuanya. Tanggapan Diky begitu dingin. “kesalahan ini memang harus diperbaiki Ren, dan aku harus memilih persahabatanku dengan Ravid ketimbang mempertahankan hubungan kita, lebih baik begini daripada ada yang terluka karenamu. selamat tinggal…”.

Entah sudah berapa banyak airmataku tertumpah, menyesali kesalahanku sendiri. Kini aku juga kehilangan Diky, yang kuharap akan menerima kejujuranku. setelah Ravid yang kubuat kecewa, kini akulah yang menderita. Kesalahanku ini, apakah tak mungkin bisa dimaafkan? masihkah ada kesempatan untuk kembali pada masa masa indah bersama Ravid yang sepenuh hati percaya padaku, namun kukhianati? atau pada Diky yang teguh pada kesetiaannya, namun kubohongi? aku hanya dapat menunggu datangnya kesempatan kedua itu, entah sampai kapan harus begini.

Cerpen Karangan: Ning S Astry
Blog / Facebook: Astryand Mgzean
Umur 25 and Still Counts

Umur 25 and Still Counts

Judul Cerpen Umur 25 and Still Counts

Seminggu lalu gua dikirimin undangan pernikahan dari temen deket. Dia temen semeja gua waktu SMA. Dari WA, gua ngucapin makasih dan minta maaf karena gua gak bisa dateng. Pas ditanggal itu gua akan dinas ke estate. Lalu temen-temen yang lain pada akrab nimbrung -ngebully gua: nyuruh nikah.

Ikan gembung!

Apakah menjadi single karena ‘cinta bertepuk sebelah mata’ di usia 25 adalah suatu hal yang aneh? Beberapa temen gua udah pada nikah di usia ini atau at least mereka udah punya pacar yang mereka yakini akan berjodoh dengan mereka. 25 tahun itu masuk periode perak kalo gak salah ya? Dan di usia ini gua rasanya jadi kebanyakan merenung, pencapaian apa yang udah gua dapat sampai sekarang… kadang gua ngerasa mimpi-mimpi gua semakin menjauh. Kadang juga gua ngerasa waktu gua untuk mimpi-mimpi itu udah semakin gak ada. Setelah gua bekerja kayak gini, apakah ada kesempatan gua untuk mewujudkan mimpi-mimpi itu, gua udah jadi ragu. Jadi Social Worker di pedalaman, ambil Beasiswa S2 ke New Zealand, dan membeli rumah untuk mama. Itu impian terbesar seumur hidup gua. Dan jujur, sebelum menikah, salah satu dari tiga hal ini ingin gua wujudkan. Tapi sampai detik ini, bahkan tanda-tanda untuk hal itu akan terwujud belum ada.

Gua pun terdiam.
Merasa dibegoin sama waktu.

Gua bener-bener ngerasa, kalo di usia ini gua mengalami transisi secara besar-besaran. Benar kata laki-laki itu, gua sedang mengalami transisi baik itu dalam percintaan, pekerjaan dan cara berpikir gua sendiri. Makasih buat orang yang pernah gua cintai, ia adalah orang pertama menyadarkan gua akan hal itu. Dan itu memberi gua sedikit kekuatan. Menghadapi banyak masalah kayak gini benar-benar membantu gua untuk lebih bersabar dan harus menghadapi masalah itu sendiri ketimbang kabur dari situ. gua nggak lagi berpikir untuk dimengerti oleh orang lain. Tapi gua harus lebih banyak mengerti diri gua sendiri. gua harus lebih banyak mendengarkan kata hati gua, tapi sambil lebih berhati-hati juga karena kecendrungan kita sebagai manusia itu egois, jadi kadang hati kita suka licik. Hati kita suka membenar-benarkan hal salah yang udah kita lakuin dan itu selalu mengatasnamakan “perasaan”. Untuk itu, sekarang gua udah mulai melatih diri gimana caranya berpikir rasional. Sifat kebocahan kayak gitu udah mulai gua tinggalin.

Ini tentang gua dan bagaimana cara gua menyikapi orang yang suka sok tau dengan jalan pikiran gua. Sejujurnya, gua kurang senang dengan suatu keadaan dimana ada orang yang suka mengukur-ukur perasaan gua atau suka menebak-nebak kepribadian gua. Karena bahkan gua sendiri kadang bertanya tentang perasaan gua, apa mau gua, dan tentang isi dalam otak gua. Gimana bisa mereka lebih tau dari gua? Apa selain diciptakan menjadi manusia mereka juga diciptakan sebagai scanner atau rontgen?
Disatu kesempatan, dia berusaha menebak siapa gua dan it was almost totally wrong.

Sadly, orang-orang suka salah sangka bahwa gua adalah mahluk fleksibel. gua bisa berbaur dengan siapa aja, diajak ke mana aja, diajak makan apa aja, dan diledekin jadi siapa aja. Benar adanya bahwa gua adalah cewek yang sedikit gak ribet. gua gak susah diajak nongkrong bahkan itu di dalam neraka bersama anak-anak setan, gua gak pernah ribet mau makan apa aja, dan banyak hal lain yang tampaknya gua nyantai aja soal itu. gua juga selalu okay ngikutin rencana yang tiba-tiba berubah pas injury time. gua jarang mengeluh soal itu. Dan, ataukah mungkin dia ngerasa sedikit gak nyaman gara-gara gua lebih nyaman berteman dengan temen cowok daripada cewek? Was it something like threat? Lagian kenapa gua harus peduli? (Pembelaan diri secara besar-besaran untuk menyembunyikan perasaan gamang)

Tapi apakah mereka berpikir bahwa di dalam hati gua gak menyimpan sesuatu?
Gua adalah orang yang menyimpan segala sesuatu di dalam hati.
Dan sifat jelek gua adalah lama memutuskan. Akan berakhir bagaimana gua dengan orang ini. Apakah gua masih akan terus berteman dengan dia atau gua harus berhenti berteman di detik itu juga.

Jujur aja, lama-lama gua semakin ngeliat dan mata gua semakin terbuka terhadap potensi yang sama sekali gak ada di antara gua dengan laki-laki jelmaan rayap namun yang masih gua cintai itu. Makin kesini gua makin gak yakin atas keputusan gua untuk menjalani semuanya dengan cara menganggap gak ada kejadian apa-apa. Kayaknya keputusan ini belum gua yakini tepat. Pasalnya, gua malah sering jadi sakit hati kalau lagi sama-sama. Jadi buat apa gua menyiksa diri dengan berlama-lama menghabiskan waktu dengan orang yang cuma dateng nyakitin doang? Buat apa gua ngabisin waktu berteman dengan orang yang mungkin gak menghargai gua bahkan sebagai teman? Orang yang nggak melindungi harga diri gua dan gak bertanggung jawab atas semua usaha dia bikin gua jatuh hati lalu dia dengan entengnya malah pergi memilih cewek lain.

Kutil Badak.

Adalah sangat sakit saat dia udah tau perasaan lu dan dia gak punya niat untuk mencintai lu kembali, namun dia suka bermain-main dengan perkataan atau perbuatan yang membuat lu ngerasa bahwa dia, setidaknya, menyukai lu. Sakit rasanya saat perasaan lu gak dijaga oleh orang yang lu kasihi.

“Aku balik sebentar ya. Mau laporan.”
Boker? Bukan. Nelepon cewek.
*gua berubah jadi Hulk

Apa dia pikir hati gua terbuat dari daur ulang plastik asoy dan gak mengurai?
Bener-bener jelmaan ikan sapu-sapu.

Kayaknya gua memang sampai kapanpun gak akan pernah bisa berteman dengan dia. Gak akan pernah ada kata-kata pertemanan. Agak sedikit mustahil untuk ngelakuin itu. Harusnya gua percaya sih dengan kata hati gua. Dari awal gua udah insecure dengan cara dia memperlakukan gua dan mengenai cara gua ngerasa tentang dia. Tapi untuk yang kesekian kalinya gua mengabaikan kata hati gua. Entah apa yang sedang berusaha gua nomorsatukan, entah itu rasa atau status pertemanan-semua ini membuat gua keliatan kayak orang bego. gua gak bisa mutlak nyalahin dia yang udah mempermainkan perasaan gua, tapi ini lebih ke jahatnya gua yang udah mempermainkan diri gua sendiri.

gua capek.
gua capek dibegoin.

Tapi gua gak tau gimana caranya pergi dengan hati yang udah luluh lantak -gimana caranya ngeberesin hati hancur ini, masih menjadi pertanyaan. Saat ini jiwa gua udah kayak dimutilasi dibagi atas 3 bagian. Bagian pertama, gua masih tetap dengan hati gua yang masih sayang. I am his lover. And I can not do any shit about this. Maybe it is true that once upon a time he liked me but not find enough encourage to love me (back). Apalagi untuk Fighting. (Apakah kualitas diri gua seburuk itu ya? 🙁 ; bener-bener bikin gua down). Ternyata, gua masih suka diam-diam memperhatikan dia, apakah dia sudah makan, apakah dia minum terlalu banyak beer hari ini, apakah dia bahagia hari ini (Tentu aja, yang ada gua yang meringis menahan rindu). gua masih berdoa buat dia, semoga hari ini dia bangun tidur dengan seger, atau mudah-mudahan hari ini dia gak digigit semut matanya karena dia manis.
(Ini kenapa jadi kayak psikopat gini ya? *telan semen padang*)

Bagian kedua, gua harus bisa tetap menjadi temannya. Seorang teman baik. This is the hardest part of these parts. Berada dalam satu kelompok pertemanan dengan dia dan ada dalam satu grup WA artinya gua akan setiap hari melihat dia ‘hidup’ sementara gua sedang jungkir balik mati-matian untuk memutus semua celah perasaan sayang gua agar gak lagi mengambil alih quality time yang harusnya gak gua habiskan untuk sibuk berpikir gimana caranya move on. Mati-matian mematikan perasaan mematikan ini. Mati-matian gimanapun caranya untuk gak ketemu atau membaca pesannya.
Lagi-lagi gua gatot. Gagal Total.
gua susah menjelaskan gimana rasa sakit yang sedang gua rasa ini. Ini perasaan gua, jadi gua harus bertanggung jawab kan? *nangis di ketek mama
Gua sakit setiap hari gua harus sok asik dengan semua basa-basi itu.

Bagian ketiga adalah, A Hater, karena ternyata dia sudah mempermainkan perasaan gua, harusnya gua bisa berubah wujud jadi orang yang membenci semua basa-basinya yang gak berguna itu. Mengacuhkan semua leluconnya yang garing itu. Mematahkan semua omong kosongnya dan sudah membunuh dia 20 kali dalam pikiran gua setiap kali gua berpapasan dengannya.

Gak tau mau mengambil peran yang mana supaya gua merasa nyaman dengan hidup gua sendiri.
MENCINTAI DIA ITU KAYAK DUDUK TANPA CELANA DI ATAS DURIAN YANG LAGI DIBAWA DI ATAS MOBIL PICK UP.
Sakit. Malu. Gila.

14-05-2017
gua tiba-tiba ngerasa nista. Ngebayangin seorang cewek di umur 25 yang sama sekali gak punya plan apa yang harus dia lakukan untuk hidupnya. Agak miris sih, mengingat pencitraan yang gua lakukan selama ini bahwa gua adalah orang yang paling kocak sedunia. Orang yang paling cincay dengan segala sesuatu. Cewek bermental kuat yang gak takut apa-apa (kecuali kecoak terbang dan bulu mata palsu yang ditempelin di kaca). Gak akan sakit dengan perlakuan apapun dan akan tahan menanggung rasa sakit kayak neraka. Perempuan single yang bahagia. True it was me, but…

Yes, I used to. Dulu gua sangat optimis dengan segala sesuatu. Gambaran gua tentang masa depan itu sangat jelas. gua punya pacar yang baik, gua mendapatkan suitable job, dan gua akan menikah pada 18 November 2018 dengan pacar yang bernama Christian Adiguna. (Setelah sekian lama akhirnya gua nge-mention nama itu). gua akan mulai ambil arisan dan memasukkan adik gua kuliah dengan uang itu. Tapi, waktu berlalu dan sebagai manusia kita cuma bisa berencana. Saat keadaan gak sesuai dengan harapan kita, maka inilah gua sekarang.

Gua putus dengan Christian after had a very huge fight. 18 November hanya akan menjadi tanggal biasa di tahun 2018 nanti. Adek gua ternyata adalah seorang junkie… and now, his girlfriend is 5 months of pregnancy.
AND NOW I am in love with someone’s husband to be.

Is my life a failure?

I often talk to God. So very often. And so far I don’t know, apakah Tuhan masih sudi memberikan rencana dalam hidup gua. I am so lost. Apakah mungkin Tuhan mulai kecewa dengan gua karena gua adalah seorang pembangkang dan sedikit bebal? Apakah Tuhan murka karena dulu gua pernah berjanji akan menyerahkan hidup gua untuk melakukan kebaikan tapi gua mengingkarinya beberapa kali? But God, I am a little girl you entrusted in my mom’s womb. Please have mercy on me, oh, God.

I am suffering.
Wounded.

In my way of perfection ternyata gua cuma ciptaan yang gak sempurna. Dan saat ini gua udah gak punya pilihan selain percaya dan berserah. Walau kadang gak bisa dipungkiri gua marah dengan semua keadaan yang datang bertubi-tubi dalam waktu yang bersamaan ini. Tapi entah kenapa, gua kayak memperoleh kekuatan entah darimana. gua masih sanggup untuk menjalani hidup gua dengan baik dan gua masih bisa tersenyum setiap hari. Walau dramatically, senyum gua berdarah. gua masih sanggup mencintai orang lain dan gua masih terus memaafkan. Demi Tuhan, ini gak datang dari kekuatan gua pribadi. THIS IS SOMETHING LIKE SPIRIT.

Gua masih berharap bahwa besok hidup ini akan lebih baik. Bukan hanya gua yang mengalami rasa sakit ini. Mungkin di luar sana masih banyak orang-orang yang bahkan udah akan sangat bersyukur apabila mereka punya hidup kayak yang gua miliki saat ini. Mungkin Christian akan melupakan gua tanpa dendam dan mendapatkan orang yang baik, begitu juga dengan gua. Mungkin nanti adek gua akan berhenti menjadi junkie dan akan menjadi seorang laki-laki yang baik untuk bayi dan perempuan yang menerimanya itu. Mungkin perasaan gua terhadap Siluman Ikan Sapu-Sapu orang ini akan menghilang dan dia akan menjadi orang yang lebih baik di tangan seseorang yang bisa membuatnya jatuh cinta. Sebuah bejana akan menjadi lebih indah apabila dipoles di tangan ahlinya. Mungkin bukan tangan gua. So, I’ll let it go…

Gua memutuskan untuk selalu mengucap syukur atas apapun yang sudah terjadi dalam hidup gua.

Saat ini memang umur gua udah 25 dan gua dianggap gak punya rencana apa-apa dengan hidup gua. Saat ini mungkin gua terluka berkali-kali, jatuh bangun dengan menangis karena rasa sakit, dipermainkan oleh orang yang gua cintai dan kecewa dengan keadaan di sekitar gua. Tapi gua ingin selalu percaya bahwa saat gua bahkan udah gak punya rencana apa-apa terhadap kehidupan gua, Tuhan pasti masih punya. Mungkin Tuhan gak akan langsung menyingkirkan cawan itu dari bibir gua, he lets me taste it but never lets me get poisoned. He only wants me to know how it tastes and it’s gonna make me learn a lot about life.

Untuk saat ini, di usia ini, I am shouting to you oh, God… Please have mercy on me and let me surrender. I don’t know what I am gonna do with my life. I will only let you take control of everything.

God.
Aku aman dalam genggaman tanganMu, kan?
I feel my heart beats faster.

I am still and gonna be OKAY.
All Thanks to God.

Cerpen Karangan: Sebatang Pohon
Blog / Facebook: @lauratan24
Biarkan Mereka Bermain Main Dengan Mimpinya

Biarkan Mereka Bermain Main Dengan Mimpinya

Judul Cerpen Biarkan Mereka Bermain Main Dengan Mimpinya

Malam hadir dan segera menjemputku, mengusir mentari yang sedari tadi mengintip dari balik pepohonan rimbun di samping bangunan sejarah. Di sanalah kuurkir sejarah kebersamaan kita, pertama bertemu hingga pada akhirnya kita berpisah. Masih kuingat semua untaian cerita yang pernah engkau rangkaikan untukku, bagaimana hati yang lemah ini kau kuatkan kala kita bermain-main dengan pertengkaran. Senyuman yang selalu kau jadikan cara cepat untuk mengusir kesalku kala sering kali kusalahkan dirmu karena hal sepele. Yah bahkan rentetan seluruh cerita itu masih tersusun rapi dalam dalam rak di ruang itu.

Ruang yang biasanya kau berada di sana, duduk bercerita tentang masa depan denganku.
“ummi, bagaiman mungkin kutinggalkan dirimu, sedangkan engkau kan kan kujadikan ummi dari anak-anakku kelak”.
“lantas?, itu bukan alasan untuk dekat dengan siapapun bi”
“sudahlah, runtuhkan cemburumu itu, bukankah aku milikmu?
“Yah… untuk saat ini, lantas bagaimana dengan nanti, besok dan seterusnya?” hanya kuungkap di balik pendengaranmu, tak ingin lagi kuperdebatkan masalah yang selalu menjadi pokok pembahan dalam hubugan ini.

Cerita ini berjalan sesuai dengan yang kau rangkaikan, dan aku hanya menjadi tokoh yang berperan dalam alur yang telah engkau setting sebelumnya. Benar sering kali keegoisan kita tak berujung damai, hingga aku meminta maaf tersering kali untuk mengusai pertentangan itu. Tapi kerumitan yang seperti ini telah membuatku nyaman, dan tak bisa dengan ketiadaan. Selayaknya tokoh yang berperan sesuai naskah, aku pun demikian. Tersenyum kala kau butuh seuntai semangat, mendengarkan kala kau ingin bercerita, menemanimu kala kau letih dengan aktivitasmu sendiri, namun apa jua yang bisa kuperbuat kala kau tuliskan dalam naskah itu kepergianmu.

Rasanya pening saat kubaca pesanmu, ada rasa sakit yang perlahan menjalar ke setiap syaraf di otakku, sontak kaget aku waktu itu “ummi maafkan abi. Abi bukan orang yang baik, mungkin akan lebih baik agar hubungan kita sampai di sini.”
“beginikah akhir cerita yang kau tuliskan untukku bi?”
“maaf kan abi ummi, suatu saat engkau akan dapatkan orang yang tulus mencintaimu”

Ada gemuruh yang tak terkendali di hatiku, meratalah semua bangunan harapan itu di sana, tersampailah pesan dari otakku ke tempat itu, semakin dalam dan jauh luka ini. Mata pun mulai lembab dengan cairan yang entah datangnya dari mana, tak terkontrol sudah alasannya. Rasanya masih terlalu dini kisah kita namun aku pun tak pernah menyadari akan keseriusanku dalam menjalani hingga selepas kau pergi barulah ku tau ternyata teramat dalam sudah cinta ini teruntukmu.

Aku yang merindukanmu saat kau jauh di seberang, aku yan berada di sampingmu saat kesulitan mendatangimu, aku yang menguatkanmu saat keterpurukan menyapamu, dan aku yang kau minta menunggu saat kepulanganmu, lalu?

Belum sempat hati ini kau bahagiakan, bahkan belum kau sediakan waktu untuk sekedar bermuajah denganku selama kita bersama, dan ternyata orang lain yang bahagia dengan kepulanganmu, orang lain yang merasakan kehadiranmu, orang lain yan tersenyum untuk kebahagiaanmu, aku?

Aku yang terluka karena keputusanmu, aku yang kembali merindu sedang kau tak lagi berada jauh denganku, aku yang harus kembali sendiri walau kutau keberadaanmu, dan lagi-alagi aku yang harus terluka atas keputusanmu. Terlalu besar kiranya oleh-oleh yang kau berikan untukku hingga tak sepatah katapun mampu kuungakapkan untuk membalasmu.

Tiada alasan untuk bertahan, tapi aku masih tak ingin pergi dari kisah ini, kudiami sendiri pesaraanku, hingga ku tau ternyata dialah yang telah menggantikan namaku di hatimu. Saat itu aku ingin segera beranjak namun ternyata kenyataan itu terlau tajam dan dalam menggores hatiku hingga tiada lagi kukuatan untuk sekedar berdiri dari panantianku terlebih untuk beranjak dan pergi. Walau sering kali kau paksa diriku untuk segera menjauh, apa yang mampu kulakuakan aku terlalu lemah. Walau ternyata kau raih tangannya, dan mempersilahkan dia duduk di tempatku dan tepat di depan mataku. Semakin tiada kutemui lagi kekuatanku untuk pergi walau aku teramat ingin.

Malam ini semakin larut, mataku pun terasa mulai perih yang sedari tadi mencoba menghilangkan namamu melalui air mataku. Kesedihan ini terus mengalir hingga kutakut pipiku akan mulai tergores akan tajamnya. Aku benar-benar ingin menghilangkan semua yang pernah ada di hatiku, ingin kuhanyutkan sejauh mungkin dari hidupku, kupikir cukup sudah kesakitan ini, namun tanpa kusadrai malam semakin jauh, dan mata ini tak ingin terpejam walau telah kuperintah kan. Kubiarkan kalian mermain-main dengan mimpi dan biarkan aku menikmati keteduhan dan kejernihan aliran ini karena terkadang di sela-selanya masih kutemukan senyum di bibirku.

Rasa sakit ini mengajarkanku, untuk tidak melakukan hal yang sama terhadap orang lain, cara tersenyum pada wajah yang sebenarnya jelas menyakitkan, cara bangkit dari keterpurukan walau tanpa penopang. Cukup aku, kisahku dan impianku. Satu hal yang ingin kusampikan,

“maafkan aku tak bisa turut bahagia untukmu, maafkan aku yang tak bisa lagi menjadi salah seorang tokoh dalam kisahmu, cukup aku dan kenangan kita yang bersamaku, walau aku tak mampu melupakan tapi aku tak punya alasan untuk mempertahankan”

Cerpen Karangan: Samiatul Ahyani
Blog / Facebook: Samiatul Ahyani
Terbang

Terbang

Apa yang seharusnya aku lakukan? Aku sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa. Rasanya aku sudah tidak kuat lagi menerima tekanan ini. Ini begitu berat, berat sekali. Bahkan sepertinya aku sudah tidak sanggup menahan beban ini. Semuanya salah. Semua yang aku katakan salah. Semua tindakan yang aku lakukan salah. Dan semua yang ada hubungannya denganku salah. Salah semua dan tidak ada yang benar.

Semua kacau! Kacau semuanya menjadi berantakan. Dan tinggal puing-puing yang ada, dan bahkan itu sudah tak terlihat. HILANG!!! Semuanya telah hilang. Semua lenyap. Kepercayaan, dan semuanya sudah tidak ada. Karena aku! Karena aku yang menyebabkan semua ini, karena ketidaktegasanku, karena kelabilanku, karena memang semua salahku. Semuanya menjadi sangat menyakitkan untuk saat ini.

Tekanan-tekanan yang mereka timbulkan membuat aku merasa terhimpit, bahkan untuk bernapas pun sepertinya aku sudah tidak sanggup. Cobaan apa lagi ini Ya Allah… Aku hanya ingin hidup tenang. Semuanya berjalan dengan lancar. Semuanya ingin baik-baik saja. Tapi aku tahu aku salah, aku salah dan aku tidak bisa melakukan apa-apa, karena aku sudah tidak berdaya. Karena aku terlalu lemah, karena aku yang selalu membuat marah, dan mereka jengkel, mereka membenciku, dan mereka sudah tidak mempercayai aku lagi.

Semuanya menjadi begitu menakutkan bagiku, seperti ini rasanya ketakutan. Bahkan aku hidup sekarang karena bukan pilihanku. Aku dipaksa untuk terus hidup, hidup yang terus ditekan. Kadang aku ingin seperti burung yang terbang bebas di angkasa. Melihat mereka aku ingin melepaskan seluruh bebanku. Membuat nyaman diriku. Tapi kenapa? Kenapa aku tidak bisa… Bahkan keadaanku sekarang tambah buruk. Bahkan jika aku menangis, rasanya air mataku sudah kering. Aku tidak mau menyimpan perasaan seperti ini terus di dalam hati.

Rasa marah, rasa benci, rasa bersalah, rasa cinta dan masih banyak rasa yang ada di hatiku. Kadang aku ingin menolak semua masalah yang ada di hadapanku. Tetapi aku tidak bisa menghindar, karena mereka serta merta menikam aku. Mencekik dan membuat aku tidak bisa bicara. Hanya bisa merintih dalam kesakitan, tanpa bisa berteriak minta tolong. Karena tak ada orang yang ingin menolong. Semuanya sibuk dengan urusan masing-masing.

Hanya Engkau Ya Allah yang dapat membantu hamba. Di dalam kegelapan ini… berikanlah penerangan di jalan yang gelap ini Ya Allah… bahkan jika aku sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi, aku masih punya Engkau kan Ya Allah, Engkau masih mau membantu hambamu yang tak berdaya ini kan Ya Allah… Tolonglah hamba untuk menyelesaikan masalah ini Ya Allah… Orang yang selama ini aku andalkan, aku percaya, dia telah berubah, meskipun tidak sepenuhnya menghianati, tapi tindakannya itu sudah sukses membuat aku semakin merasa bersalah.

Jika sudah seperti ini aku harus bagaimana? Aku harus melakukan apa? Mereka sama sekali tidak menganggapku. Tidak menganggap aku ada, sekalipun aku tepat ada di depannya. Semakin ingin rasanya untuk cepat terbang… bersama burung dan kupu-kupu, mengepakkan sayap untuk meninggalkan keadaan ini… kalau aku seperti ini, apakah aku juga semakin terpuruk.

Cerpen Karangan: Fimv Marlisa
Facebook: Fimv Marlisa
Daffa

Daffa

Judul Cerpen Daffa

Entah bagaimana aku mengenalnya, entah bagaimana aku merasa nyaman saat bersamanya. Aku heran, mengapa ada pria yang mau berjuang keras untukku, padahal aku dingin sangat dingin. Aku mulai merajut kisah dengan sebait kata, menahan rindu dengan sebait doa. Entah apa alasan dia mau bertahan denganku, Entah apa alasan dia memperjuangkanku, Entah seberapa sabar dirinya berhadapan denganku. Namun sayangnya hatiku beku, hanya merasa nyaman dan rindu. Aku menyayanginya, tapi cinta? Aku tak tau. Aku lupa cara mencintai seorang kekasih, mungkin akibat masa lalu yang menbuat cintaku hilang, mungkin karena masa lalu yang membuat hatiku beku untuk mencintai.

“Nanda.. dengerin aku ya mau nyanyi” mintanya sambil memegang gitar.
Aku pun hanya mengangguk tersenyum.
Tangannya mulai bermain, suaranya mulai terdengar. Dia bernyanyi dengan tersenyum, dan aku pun hanya mendengarkannya. Aku sangat menyukai suaranya, cara dia bicara bahkan caranya tersenyum tertawa. Meski bukan aku yang menciptkan tawanya, tapi aku bahagia bisa mendengarnya.

“Gimana, bagus?” Tanyanya menatapku.
“Enggak, jeleeek” jawabku
“Ya udah aku gak akan nyanyi lagi” balasnya cemberut
Aku pun mentertawainya, melihat ekspresi wajah dan tingkahnya.
“Lah Autis malah ngetawain”
“Bocah banget sih, idiot haha” ledekku lagi.
Dia hanya tersenyum heran menatapku.

Mungkin bukan aku yang mampu membuatnya bahagia, mungkin begitu keras hatiku sampai aku pun belum bisa mencintainya. Daffa.. orang yang begitu sabar, perhatian, dia bertingkah konyol hanya untuk membuatku tersenyum, dia kuat menghadapai dinginnya sikapku. Aku lupa cara mencintai, aku lupa bahagianya mencintai, yang aku rasa, aku hanya mampu mecintai pria dan itu pun ayahku saja untuk saat ini. Waktu membawaku mengenalnya, menyimpan rasa untuknya, tersenyum dan tertawa karenanya. Waktu yang menarikku untuk menggenggam tangannya, namun untuk sekarang waktu belum mampu membuatku mencintinya. Entah aku akan merasakan cinta terhadapnnya, atau hanya sekedar menyayanginya.

“Nanda.. bagaimanapun caranya aku akan menggenggam tanganmu” ucapnya menatapaku.
“Tak usah berbicara itu, mungkin saja aku yang melepaskan genggaman itu” jawabku datar.
“Mengapa? Kamu gak serius sama aku?” Tanyanya mengerutkan kening.
“Aku hanya merasa tak pantas untukmu, bukan aku ingin melepaskan genggamanmu. Waktu menyeretku berkenalan denganmu, waktu pun akan menarikku menjauh darimu” jelasku menatapnya tersenyum.
“Sekeras apapun waktu mengambilmu, sekeras itu pula aku akan menggenggammu.” Ucapnya meyakinkanku.
“Sekeras kamu menolak perpisahan, sekeras itu pula takdir mewujudkan perpisahan. Sudahlah, aku tak berjanji akan selalu bersamamu, tapi sekarang aku hanya menikmati waktu saat aku menggenggam tanganmu” ucapku tersenyum kecil.

Daffa, mungkin sulit mencari pria sepertimu. Dia sabar, dia tak pernah berani membentakku keras, bahkan untuk memarahiku pun dia tidak pernah. Jikalau pun aku salah, dia hanya menegurku dan menasehatiku dengan sabar. Dia tidak pernah menggores luka, dia berharga dan aku pun merasa tak pantas untuknya.

“Sampai kapanpun aku bakalan sayang sama kamu” ucap daffa.

Aku pun hanya tersenyum tanpa membalas ucapannya. Mungkin begitu beku hatiku sehingga aku tak mampu mencintai pria itu, mungkin begitu keras sikapku sehingga aku tak mampu selalu bersikap baik terhadapnya. Aku harap, bila waktu mengizinkan aku bersamanya dengan jangka waktu lama, aku harap hatiku sempat mencintainya. Dan bila waktuku telah habis dengannya, dan aku pun belum sempat mencintainya, aku bersyukur sempat memilikinya dan mampu menyayanginya.

Cerpen Karangan: Novia Fernanda
Facebook: Novia Sepersial Fernanda
Pertemuan Tanpa Nama

Pertemuan Tanpa Nama

Judul Cerpen Pertemuan Tanpa Nama

Perkenalkan namaku adetia. Hobiku adalah menulis puisi. Aku tak suka dengan keramaian. Yang kadang membuat aku seperti terasingkan. Namun ku juga benci dengan kesepian. Yang membuatku selalu sendiri.

Aku sekolah di salah satu SMA favoritku. Dan sekarang ini adalah tahun ketiga ku sekolah di sana. Hari-hariku sangatlah membosankan. Tiap pagi harus bangun meskipun mata masih ngantuk. Berangkat ke sekolah, bertemu dengan teman-teman, lalu kembali lagi pulang. Hanya itu saja, sempat terpikirkan olehku, apakah aku harus merubah hidupku?

Pagi itu seperti biasa ku berangkat ke sekolah diantar ayahku. Peraturan di sekolah yang melarang setiap siswa untuk membawa motor membuat ayahku harus mengantarku ke sekolah setiap paginya. Dengan keadaan cuaca yang sedang hujan. Terpaksa aku harus tetap berangkat sekolah dengan menggunakan jas hujanku. Sebenarnya aku sangat benci dengan hujan. Benci dengan setiap titik airnya. Karena itu mengingatkanku akan peristiwa 2 tahun yang lalu. Peristiwa yang kembali membuatku berurusan dengan cinta. Cinta yang masih tetap sama. Tak pernah bisa kuungkapkan dengan sejujurnya.

Di perjalanan hujan pun berhenti. Meninggalkan bekas genangan air di jalanan. Sesampainya di sekolah, kulepaskan jas hujanku dan kuberikan kepada ayahku sambil mencium tangannya. Setelah itu aku berjalan memasuki ruang kelasku.
“Ternyata masih sepi, udah jam segini apa aku yang terlalu pagi ya berangkatnya.” Kataku saat melihat keadaan kelas yang masih kosong.

Sambil menunggu yang lain datang. Kubuka tasku dan mengambil buku latihanku. Kulanjutkan PR yang belum selesai kukerjakan semalam. Hingga ku tak sadar ada temanku yang datang dan menegurku.
“Woi PR mulu, ngerjain PR mah di rumah bosen gue liatnya.” Kata temanku.
“Nggak usah diliat kalo bosen mah. Emangnya lu udah apa?” Balasku
“Yah lu tau gue kan.”
“Tau gue, lu kan biasanya belom selesai.”
“Nah tuh tau pake nanya.”
“Dasar males”

Akhirnya selesai juga. Tak terasa semua temanku telah datang dan bel sekolah pun berbunyi. Sebelum memulai pelajaran seperti biasa tadarus Al Qur’an dulu. Sudah menjadi kegiatan rutin di sekolahku sebelum memulai pelajaran. Setelah selesai tadarus barulah pelajaran dimulai. Semua pelajaran di sekolah kuikuti dengan baik dan lancar. Bel pulang pun berbunyi dan aku pun pulang ke rumah.

Karena rumahku yang lumayan jauh dari sekolah. Jadi aku harus 2 kali naik angkutan umum. Tapi itu semua tak jadi masalah. Semenjak pertemuanku dengan dia. Dia yang telah mencuri pandanganku di sepanjang perjalanan. Entah sampai saat ini aku tak mengenal namanya. Tapi hati ini seakan mengenali wajahnya. Sepertinya aku pernah bertemu dengannya. Tapi itu dimana aku pun tak tahu. Aku seperti seorang yang amnesia waktu itu. Setiap pulang ku selalu bertemu dengannya tapi tanpa pernah ku menyapanya. Apalagi untuk menanyakan namanya ku tak pernah bisa. Meskipun jalan pulangku dan dia searah. Tapi selama ku bersamanya ku tak pernah berani untuk menanyakannya. Sampai-sampai aku tak bisa lagi bertemu dengannya. Tak bisa lagi melihat dia di tempat biasa itu. Dan sampai kini mungkin namanya akan selalu menjadi misteri bersama jejak yang kujelajahi.

Cerpen Karangan: Adetia Saputra
Blog: www.sobatbankids.blogspot.com
Aku Ingin Amnesia Dari Egoisentrum Diri

Aku Ingin Amnesia Dari Egoisentrum Diri

Judul Cerpen Aku Ingin Amnesia Dari Egoisentrum Diri

Pagi ini, mentari bersembunyi di antara butiran-butiran air yang dirangkul oleh gas di udara. Ketika waktu makin berjalan saat itu pula mentari tersapu oleh awan yang makin menghitam, menyelubungi pagi hariku yang kelam. Kelam akan hariku dan juga hatiku, tak lama langit sengaja memotretku dengan cahaya kilatnya. Yang membuatku terkagum sekaligus terkejut, kini langit marah. Dia marah kepadaku karena sikapku, karena sifatku dan juga karena aku. Kini suasana menjadi kacau, mentari pagi yang aku harapkan menyapaku dengan kehangatan andalannya berubah menjadi kemarahan sang langit. Langit tak henti-hentinya menggaur, seakan-akan memarahi diriku. Aku takut, sungguh ini bukan yang aku inginkan. Tak lama kemudian mentari menangis, yang menyebabkan bola biru ini basah kedinginan.
“Maafkan aku, ini bukan keinginanku…”

Andai waktu dapat diulang kembali, aku janji aku akan memperbaiki segalanya. Namun rasanya aku terlambat, hingga akhirnya kau menjadi korban dari sifatku yang amat ditakuti semua orang di dunia ini. “kenapa harus kamu yang merasakan? Kenapa tidak yang lain? Aku sungguh menyesal, sangat-sangat menyesal..”.

Entah waktu itu siapa yang salah, apakah memang aku dengan sifatku atau kamu dengan kepolosanmu. Saat itu aku benar-benar sangat emosi, andai kau tau itu. Waktu itu aku sedang membutuhkan dirimu, ingin cerita banyak tentang kehidupanku yang kini tak sama dengan kehidupanmu disana, aku yang sedang rindu serindu-rindunya, yang ingin bertemu dan sedikit bergurau denganmu, tapi apa alasanmu? “aku sibuk disini, kurikulum baru membuatku susah untuk meluangkan waktu. Bersabarlah, suatu saat nanti aku akan menemuimu, merealisasikan semua keinginanmu hari ini. Tunggulah…”.

Rasanya masih terngiang-ngiang alasanmu itu, hingga suatu saat aku menemukan bahwa alasanmu itu aku anggap sebuah kebohongan. Kamu, yang tidak mengabariku satu detikpun di waktu luangmu, tidak menanyakan kabarku seolah-olah aku bukan siapa-siapa lagi bagimu tiba-tiba berkicau di salah satu media sosial. Sakit rasanya yang kudapat saat itu, apa kamu tahu itu? Waktu itu aku benar-benar emosi, karena aku merasa aku sudah tak dihargai. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk tidak ingin mengenalmu lagi.

Keputusanku itu sebenarnya bukan keinginanku, tapi keinginan dari emosi hatiku. Entah karena aku yang terlalu sayang atau hatiku yang lelah dan tak sanggup untuk bersabar, lalu kamu menambah bumbu yang pas hingga akhirnya aku bisa memutuskan keputusan itu. Sungguh, saat itu aku tidak merasakan apa-apa. Entah apakah saat itu aku sedih, bahagia, atau suasana yang lainnya, aku tidak merasakannya. Hampa, mungkin kata yang cocok untuk saat itu, aku melepasmu dan kau tak ingin melepasku. Sekali lagi, entah itu salahku ataukah salahmu.

Beribu kali aku merasakan penyesalan yang amat mendalam, kamu memang hebat. Membuat aku merasa menyesal sekaligus merindukanmu disini, sebuah penyesalan yang mengajakku menuju sebuah kegilaan. Tunggu, kegilaan tidak cukup untuk itu. Mungkin kata kematian yang cocok. Rasanya, ketika aku merasa bersalah dan menyesal sepertinya lebih baik aku mati. Menebus semua kesalahanku dan menghentikan rasa menyesal dan rinduku yang tidak akan pernah habis terhadapmu, hingga saat ini aku selalu bertanya pada diriku sendiri “apa yang harus aku lakukan? Untuk menebus semua kesalahnku terhadapmu dan menghentikan semua penyesalan ini?…”.

Jujur, aku lelah dengan semua ini. Mencoba lalu gagal lagi, mencoba lalu gagal lagi hingga detik ini aku tidak bisa menghilangkan semuanya. Penyesalan, rindu, marah, rasa bersalah semuanya bercampur aduk. Inilah diriku sekarang, entah apakah aku membaik atau memburuk. Kamu bisa melihatnya sendiri, disini.

Hingga akhirnya sang mentari mulai membaik, dia mulai berani melawan rasa takutnya. Namun itu tak sama dengan diriku, aku tak sanggup melawannya. Tak sanggup memulai lagi dari awal lalu terngiang lagi tragedi itu, kini aku bingung. Aku ingin menghilangkanmu tapi aku tak bisa, ataukah aku harus menunggumu tapi tak berarti alias sia-sia? Pernah dulu kamu bilang kita tak akan mungkin bersama lagi, karena kita memiliki alur kehidupan masing-masing. Aku dengan kesibukan dan duniaku dan kamu juga, namun sampai kapanpun aku tak bisa menerimanya. Sulit bagiku, mungkin karena rasa bersalah dan penyesalan ini penyebabnya. Lantas apa yang harus aku lakukan untuk menebus semua itu? Apa aku harus mati? Atau apa yang harus aku lakukan? Jawab aku, tolong aku jika kamu tak mau lagi diganggu. Tapi kumohon maafkan aku, karena aku tak bisa melepaskanmu dari ingatanku.

Apakah ini sifat egoisku yang hanya menginginkanmu? Aku merasa bahagia untuk memilikimu sedangkan kamu sengsara ketika memilikiku? Setahuku cinta tak begitu, harusnya ketika aku bahagia kamu juga bahagia. Kita sama-sama merasakan hal yang sama, tapi apa kau ingat hal itu sebenarnya sudah terjadi pada kita. Namun dulu, Dulu sekali.
Siang ini, mentari bersinar kembali. Dia berhasil melawan rasa takutnya, mengalahkan kemarahan sang langit. Aku iri dengannya, iri karena kenapa aku tak bisa melakukan hal yang sama, melawan rasa takut? Kenapa aku selalu mengalah pada amarah hati dan mengikuti keegoisan diri. Sungguh aku lelah dan ingin bangkit, namun tak ada lagi yang mampu merealisasikannya bahkan diriku sendiri. Aku sudah tak sanggup lagi menanggung semuanya.

Apa aku harus meminta dan mengemis untuk meminta kesempatan kali kedua kepadamu? Karena aku tak mampu melepasmu, atau aku harus mati saja biar selesai semua hal ini? Tidak, aku masih ingin melihat senyummu meski itu tanpa kamu sadari. Mungkin yang aku butuhkan ialah AMNESIA, supaya aku lupa siapa dirimu dan siapa diriku. Mungkin.

Cerpen Karangan: Ajeung Nur Fauziah
Blog / Facebook: ajeungnf.blogspot.co.id / Ajeung Nur Fauziah