Showing posts with label Cerpen Keseharian. Show all posts
Showing posts with label Cerpen Keseharian. Show all posts
Senyumnya Menghangatkanku Dalam Hujan

Senyumnya Menghangatkanku Dalam Hujan

Judul Cerpen Senyumnya Menghangatkanku Dalam Hujan

Aku berjalan menembus hujan yang semakin membesar, tangan kiri memegang erat tas yang menempel di dada, tangan kanan memegang payung dengan erat seakan sedang memegang tangan seseorang dengan tak ingin terlepas. Perjalanan masih beberapa puluh bahkan mungkin beberapa ratus meter. Sudah terbiasa harus berjalan sejauh itu setiap hari. Petir bersuara kilat pun menyala.

Tatapanku ke bawah, takut sesuatu terinjak olehku. Namun Tatapanku langsung terangkat begitu mendengar suara batuk sesorang. Terlihat seorang siswa Yang sedang berdiri tepat di sampingku, aku tersontak kaget melihatnya. Senyum tergambar di wajah laki-laki itu, deretan gigi ia tunjukan juga kawat gigi berwarna biru menempel di gigi putihnya yang semakin Terlihat rapi. Aku menundukan kepala tersenyum tipis, aku berniat Berjalan kembali, Namun baru satu langkah Aku melangkahkan kaki, laki-laki itu langsung melangkahkan kakinya memposisikan dia berada di sampingku membuat Aku harus mempertinggi payung yang aku pegang (Seperti salah satu adegan dalam serial drama Korea). Posisi kami saling berhadapan Aku menghadap ke arah atas dan dia menghadap ke arah bawah karena dia jauh lebih tinggi dariku. “Boleh menunmpang?” Tanyanya dengan menatapku membuat jantungku berdetak lebih kencang. Aku hanya mengangguk menampakan wajah polosku. “Sini!” Pintanya menawarkan agar payungnya dia Yang bawa, Aku memberikan payung itu segera tanpa jeda waktu lama.

Hujan semakin deras, Petir bersuara lebih seram Dan kilat memancar begitu terang. Namun Kali ini Aku tak khawatir dengan semua itu, karena ada sesorang di sampingku. Entah siapa nama laki-laki itu. Namun dari batik angkatan yang ia pakai, dia duduk di bangku kelas 11, sedangkan aku duduk di bangku kelas 12. Namun walau begitu, Aku tetap merasa terlindungi olehnya.

Hujan Yang semakin besar, semakin menyulitkan kami berjalan di tengah hamparan air Yang menggenang sekolahan, berjalan menuju tempat parkir di sudut belakang sekolah. Satu detik, satu menit hingga beberapa menit kami berjalan berdampingan akhirnya tempat Yang kami tuju pun Terlihat. Kali ini, Ada atap di atas kepala kami. kami menuruni tangga menuju tempat parkir. Laki-laki itu menutup payung kecil Yang melindungi kepala kami dari hujan tadi. Dia melipatnya walau air masih berjatuhan dari permukaan payung. “Makasih kak” ucapnya “sama-sama de” jawabku. Dari postur mungkin sapaan kita terbalik, namun dilihat dari batik Yang masing-masing kami pakai memang itulah sapaan Yang tepat.

Hujan kini semakin memperbesar, beberapa siswa dan siswi masih berdiri atau duduk di motor mereka menunggu hujan reda. Aku pun berjalan ke arah motorku yang terparkir di sudut depan, sedangkan laki-laki yang tadi berjalan tepat di belakangku. Menyadari hal itu, aku berhenti sejenak menoleh ke arahnya. Kedua alisnya dia angkat, menandakan kalau dia bertanya “ada apa?” Aku hanya menggeleng tersenyum tipis. Kuteruskan langkah kakiku, tak butuh beberapa menit sampailah tepat di belakang motorku, namun menyadari ada motor lain yang membuatku sulit duduk di atas permukaan jok motor, aku pun mencoba menggeserkannya, namun dengan segera tangan laki-laki itu menggeser motor yang berada di sampingku dengan cepat. Aku tersenyum padanya, tak ada ucapan terimakasih akan hal itu karena bagiku senyuman pun sudah mewakilinya. Bagiku sudah tak aneh dia tersenyum padaku, senyum yang begitu terlihat manis.

Aku duduk di atas permukaan motor, dia pun melakukan hal yang sama duduk di motor yang terparkir di sebelah motorku. Aku fikir, motor itu adalah motor punyanya yang kebetulan terparkir di sebelah motorku. Hening hanya ada sedikit suara hujan yang kini semakin reda. Tak saling berbicara, hanya sesekali saling menengok dan beberapa kali mata kami bertemu *contacteyes juga saling menunjukan senyuman yang entah apa maksudnya. Tak perlu kata-kata tak perlu hangat tubuhnya, hanya dengan senyumnya yang begitu membuat nyaman hati, membuat seakan hujan, petir dan kilat tak menjadi sebuah ketakutan lagi.

Ingin berkata terimakasih padanya atas kehangat singkat karenanya atau berkata “senyummu menghangatkanku dalam hujan” walau tak berkenalan, tak tahu siapa namanya. Namun apa berartinya nama? Bagiku tak berarti tapi kebersamaan kami yang terhitung waktu, lebih berarti dari sekedar tahu namanya.

Cerpen Karangan: Renita Melviany
Facebook: Renita melviany
Teman Baru

Teman Baru

Judul Cerpen Teman Baru

Aku siswi kelas 2 SMK di daerah DKI Jakarta. Dan hari ini tepat UAS semester genap. Hitungan hari lagi aku sudah menjadi anak kelas 12 alias kelas 3 SMK. Banyak hal yang belum kumengerti dan banyak hal pula yang masih kupelajari lebih dalam. Maka itu, aku harus lebih rajin dari hari ini untuk mempersiapkan diriku di kelas 3 nanti.

Harapanku agar aku dapat memasuki perguruan tinggi dengan mudah. Namun aku hanya bisa berencana dan terus berusaha. Tuhan yang menentukan bagaimana jalanku kedepannya. Aku sadar diri bahwa nilai raporku dari semester ke semester tidak ada penaikan. Yang terlihat jelas adalah penurunan, ada saja hal yang membuat nilaiku turun. Meskipun aku sudah berusaha dengan kerasnya, jika memang jalannya aku mengikuti remedial ya sudah ikuti saja prosedurnya dengan baik dan benar. Karena apapun juga jika prosesnya benar maka hasilnya benar.

Seperti hari ini, sudah 3 hari aku mengikuti UAS semester 2, baru 2 pelajaran yang tidak remedial. Sisanya? Ya jangan ditanya, pasti remedial. Menyedihkan memang, apa boleh buat jika memang jalanku seperti ini adanya. Harus kulalui dengan sepenuh hati.

Saat hatiku benar-benar berada dalam titik yang terbawah ketika aku sangat kecewa dengan sepenuh hati. Aku pergi ke perpustakaan, dengan harap hatiku membaik melihat banyak buku yang berjejer di atas meja sana. Kulangkahkan dengan ringannya mengarahkan kaki ke arah perpustakaan.

Aku pun mengisi daftar hadir perpustakaan. Banyak murid yang duduk-duduk sambil membaca di sana, ada juga yang tidur-tiduran atau sekedar bermain hape maupun ngadem di perpustakaan. Apapun itu, masing-masing yang datang punya maksud dan tujuan berbeda. Layaknya sepertiku, aku hanya ingin menghilangkan kepenatan karena remedial di depan mataku. Ya, terlihat seperti pengecut memang. Tapi UAS kali ini tetap kuhadapi dan kuberikan performaku yang sebaik-baiknya, walaupun hasilnya tidak memuaskan bagiku.

Tidak lama dari mengisi daftar hadir, aku segera mencari buku-buku yang menarik untuk kubaca. Ya, tapi bukan buku pelajaran. Dengan grasak-grusuk ku mencari buku yang kumaksud. Karena terhalang badan murid yang sedang duduk, pencarianku jadi terbatas. Aku tengok ke sebelah kanan, memikirkan cara agar dapat berjalan di rak buku lainnya. Tetapi ada seseorang murid yang memperhatikanku karena kegusaranku itu.

Dengan berbisik, kutanyakan kepadanya “Di sini tidak ada novel ya?” seraya tersenyum kepadanya.
“Iya enggak ada novel di sini” katanya dengan jelas, sambil menggenggam buku ensiklopedia di pangkuannya.

Aku baru pertama kali melihatnya, namun ia bisa begitu ramah denganku. Seakan aku mempunyai teman baru. Yang aku tahu hanya wajahnya tidak asing bagiku dan sepertinya ia seangkatan denganku.

Setelah berbicara dengannya, aku berusaha mencari novel yang dimaksud. Beberapa menit kemudian aku kembali ke hadapannya dengan membawa 2 buah buku. Yang satu komik dengan judul 5 Pesan Damai dan buku cerita berjudul Al-Ikhlas.

“Nih ada” kataku sambil menyerahkan buku Al-Ikhlas kepadanya.
“Eh iya, kamu nemu di mana?”
“Tuh di situ”
“Oh, di situ”
“Keren nih isi komiknya, tadi aku udah baca sebagian. Sumbangan anak murid lagi ini” jelasku. Kebetulan memang 2 buku yang kuambil tadi bergenre islam dua-duanya, walau dikemas dengan cara yang berbeda.
“Kalau mau nyumbangin novel ke sini, rasanya sayang banget”
“Iya sayang banget, mahal soalnya. Bisa Rp 50.000,00 buat satu novel”
“Malah aku beli sampe Rp 100.000,00 bisa”
“Oh, kamu suka ngoleksi buku juga”
“Iya suka. Banget”

“Btw, tadi nilai bahasa inggris kamu berapa?” tanyaku dengan lirih.
“Aku belum ulangan bahasa inggris, tadi komputernya error jadi aku ulangan kewirausahaan dulu. Padahal belum belajar kewirausahaan sama sekali tadi. Kamu sendiri bagaimana hasil ulangan inggrisnya” jawabnya dengan santai.
“Hehehe, hasilnya aku belum mengetahui. Tadi selepas aku menyelasaikan soal. Aku langsung menutup akun tanpa melihat nilaiku terlebih dahulu” jawabku sambil berharap ulanganku tadi tidak remedial seperti kemarin. Sejak kekecewaanku terhadap ulangan, aku trauma untuk melihat hasil setelah ulangan.

“Oh belum kamu lihat, tapi susah tidak soal bahasa inggrisnya?”
“Aku gak ngerti susah apa enggaknya hehehe”
“Tapi soal kamu tulisannya yang buat siapa?”
“Tadi sih aku denger seluruh kelas XI, soal bahasa inggrisnya sama”
“Guru kamu memangnya siapa?”
“Itu yang baru mutasi dari SMK 7”
“Oh yang itu guru bahasa inggris kamu”
“Iya yang itu”

Setelah kami melalui sebuah percakapan singkat. Kami berdua fokus membaca buku masing-masing yang digenggam. Tidak lama kemudian, ia bersama dengan temannya menyiapkan tas kemudian berdiri dari bangku yang diduduki seraya meninggalkan perpustakaan.

“Dikit lagi kamu ujian inggris ya?” tanyaku.
“Iya nih”
“Semangat ya”
“Iya makasih ya”

Aku tidak menanyakan namanya. Karena aku tahu betul, aku lupa akan nama berbeda dengan wajah. Aku lebih hafal wajah dibanding nama. Setelah ia pergi, ada teman sejurusanku namun berlainan kelas yang datang ke perpustakaan juga.

“Lu datang sendirian ke sini?” tanya Tina dengan herannya.
“Enggak, lu gak lihat ini gue berdua sama buku? hehehe” jawabku menghibur diri.
“Trus temen lu ke mana?”
“Ada. Kan temen gue lagi ujian Tina. gue duluan ya Tina” sembari meninggalkan perpustakaan.

Di ruang kelas aku menunggu temanku. Berharap kabar baik dari mereka. Tidak lama kemudian suaranya terdengar memenuhi ruangan.
“Bagaimana lu pada ulangan bahasa inggrisnya?” tanyaku.
“Ya gitu deh” jawab Lina.
“Trus lu gimana Nissa?”
“Sama kaya Lina gue, tuh si Tika aja yang nilainya bagus. Gak tau dapet wangsit apa semalem dia” jawab Nissa.
“Keren keren lu Tik, duh tapi hasil punya gue berapa ya? Kalau nilai lu aja pada begitu. Jadi takut gue ah lihat halaman nilai”

Tika sejak hari pertama UAS baru pelajaran inggris yang lulus, dalam artian pelajaran lain selain inggris. Nihil. Agak mengenaskan memang terdengarnya.

“Ya udah, lebih baik kita makan. Daripada mikirin nilai UAS yang anjlok kaya begitu” kataku.
“Ayoo…!!!” seru Tika, Lina dan Nissa.

Di perjalanan menuju kantin aku bertemu dengan orang yang tadi kutemui di perpustakaan. Aku dan dia terlihat saling tersenyum sebagai ganti dari sapaan. Di kantin, aku bersama teman-temanku bertemu dengan Guru seni musik yang kebetulan kami remedial dalam pelajaran tersebut.

“Remednya apa pak?” tanya Lina dengan tegas.
“Kamu bikin makalah ya pokoknya, minimal 7 halaman” terang Guru seni music.
“Kelompok apa individu pak?”
“Individu lah, masa kelompok”
“Oke pak”

Ya, karena aku termasuk remedial seni musik. Maka sepulang sekolah aku mencari materinya agar segera aku buat. Akhirnya, keesokan harinya setelah mengikuti ujian sesi satu aku bergegas pergi ke perpustakaan untuk mengerjakannya. Aku menyetel musik di netbookku dengan memakai headphone agar yang lain tidak mendengarnya. Lalu kubuka Ms. Word di netbook dan segera aku pindahkan data yang kucari semalam.

Setelah beberapa menit kukerjakan dan selesai. Kulihat sekeliling perpustakaan, ternyata ada orang yang kemarin aku ajak ngobrol. Sungguh tak kusangka dia berada di perpustakaan lagi. Walau tidak tahu siapa namanya, aku merasa begitu dekat dengannya. Walau hanya mengenal karena kesukaan kami yang sama tapi kami bisa begitu nyambung ketika mengobrolkan suatu hal. Ia juga begitu ramah denganku yang baru berkenalan dengannya. Aku suka itu. Dan ketika di luar perpustakaan ia juga masih mau menyapaku dengan hangatnya. Walau aku tidak tahu siapa namanya, aku sudah cukup terhibur olehnya.

Cerpen Karangan: Afifah
Facebook: facebook.com/affh18
instagram: affh18
Mozaik Kisah Orang Orang Di Sekitar Ken (Part 3)

Mozaik Kisah Orang Orang Di Sekitar Ken (Part 3)

Judul Cerpen Mozaik Kisah Orang Orang Di Sekitar Ken (Part 3)

Membunuh Kemacetan

Sudi sudah mendengar kabar bahwa Ken kena sidang. Ia tahu, kawannya itu akan bertindak apapun agar ide dalam kepalanya tumbuh kembali. Seperti Tati yang pernah punya tangan dingin -yang mampu menghidupkan bunga-bunga- dan mencoba menjadi ringan tangan untuk membangkitkan tangan dinginnya yang lama hilang. Kisah Ken sama halnya dengan Tati. Ia mau menulis cerita kembali seperti dulu. Ia ingin jari-jarinya lincah menerjemahkan keinginan hati dan pikirannya. Ia ingin mengekspresikan dirinya bersama sepi. Oh, iya, aku lupa, Sudi juga membaca cerita tentang tangan dingin Tati di sebuah situs internet: Cerpenmu.com, kalau tidak salah. Ken yang mengusulkannya. Cerita-cerita karangan Ken juga ada di sana.
Adanya lebaran sama dengan adanya mudik. Pulang kampung. Berlibur. Sudi melakukan kebiasaan itu bertahun-tahun. Ia juga ikut andil mengosongkan bundaran Hotel Indonesia. Ia akan berkunjung ke kampung halaman selama seminggu ke depan.

Sehari sebelum hari raya, ia berangkat dengan mobilnya. Dari Jakarta ke Banyuwangi. Sebenarnya, Sudi terlambat. Semestinya, ia mangkat bersama munculnya matahari di kaki langit. Sekarang sudah jam tujuh pagi. Kebiasaan buruk Sudi adalah terlambat karena mengulur-ulur waktu. Kata “nanti” selalu hidup dalam kepalanya.
Saat ini, Sudi terjebak kemacetan. Awalnya, ia masih sabar. Satu jam kemudian, ia menurunkan kaca dan mengeluarkan kepala untuk sekadar tahu sampai sejauh mana mobil-mobil dan kendaraan motor lain mengular. Lalu, ia menaikkan lagi kaca mobil dan memilih menunggu tenang di mobil sambil mewanti-wanti kalau-kalau mobil di depannya bergerak barang beberapa senti. Tiga puluh menit kemudian, ia lupa. Bahwa tidak baik bagi kesehatan menyalakan AC di ruang tertutup sempit seperti mobil. Sudi mematikan AC. Ia juga khawatir bahan bakar mobilnya akan terkuras jika AC tetap nyala. Sudi menurunkan lagi kaca mobil karena gerah setelah dua puluh menit.

Tiba-tiba, kesabaran Sudi habis. Sudah dua jam ia menunggu. Jalan bebas hambatan masih diserang kemacetan. Rest area masih jauh. Kemacetan diberitakan makin panjang. Sudi mengutuk matahari yang terik, mobil di depannya yang belum lagi bergerak, dahaga yang datang tiba-tiba, lapar yang mengganggu ketenangannya, pemerintah yang tidak bisa mengurangi kemacetan, dan hal-hal lain yang makin jauh dari tentang kemacetan.
Matahari masuk dari kaca mana saja. Dari depan, dari kanan, dari kiri dan belakang. Sudi menduga itu faktor pemantulan cahaya oleh spion mobil dan motor. Keringat mengalir deras di tubuh Sudi. Makin lama makin deras dan menguyupi badannya. Dehidrasi makin kuat mencengkram kerongkongannya yang kering kerontang. Ia tak bisa lagi mengumpat dalam hati.
“Sialan! Cepatlah jalan. Ini jalan bukan milik nenek moyang kalian! Banyak orang yang mau pergi dari sini. Ayolah! Bergerak. Kami semua mau cepat sampai.”
Makin banyak Sudi berkata-kata, ia semakin kehausan. Tadi ia tidak membawa air minum. Keterlambatannya adalah alasannya. Mata Sudi sudah berkunang-kunang. Ia pingsan.

Sejam kemudian, orang di belakangnya berteriak-teriak membunyikan klakson. Mereka meminta agar Sudi menjalankan mobilnya. Tapi tidak ada jawaban. Sepuluh menit, sebelas menit. Tiga belas, empat belas menit. Masih tidak ada respon. Mobil Sudi terlihat sepi. Tidak ada siluet kepala Sudi di depan setir yang tampak dilihat dari kaca belakang. Orang-orang yang menunggu jawaban tadi, sudah tidak sabar. Mereka turun dan membanting pintu mobil mereka sendiri. Kancing kemeja mereka terbuka semua. Kemeja mereka berkibar ditiup angin panas. Mereka menghampiri mobil Sudi dan kaget bukan main.
Lelaki bertubuh tinggi itu tergeletak di dalam mobilnya. Kakinya menginjak rem, kepalanya jatuh di kursi di sebelah kursi kemudi. Seorang pria memastikan denyut nadi dan hembusan napasnya. Ia menggeleng.
“Orang ini…,” katanya, “Sudah meninggal dunia!”
Beberapa orang tergelak. Tidak tahu apa yang mesti dilakukan. Bisa saja, itu akan terjadi pada mereka. Cepat atau lambat, jika kemacetan ini tidak lekas-lekas selesai.

Sabtu pagi hari yang cerah. Tukang antar koran menyelipkan satu eksemplar koran beraroma baru yang baru terbit hari itu. Salman mengusap-usap matanya. Ia terbangun setelah deru motor tukang antar koran menjauhi rumahnya.
Salman berjalan ke arah pagar dengan terhuyung-huyung. Langkahnya limbung. Melihat headline koran pagi itu, matanya terbelalak. Di sana tertulis: Lima Belas Orang Meninggal Akibat Kemacetan Di Jalan Tol.
Seketika, Salman memiliki rencana lain yang mencurigakan. Ia ingin satu hal pagi itu: membunuh kemacetan. Ia menghubungi seorang teman ayahnya yang pandai membuat bom plastik.
Tempo hari, Salman mencuri empat roda mobil. Pemiliknya adalah orang-orang yang berencana mudik. Semua empat roda itu, ia ledakkan di tanah yang gersang. Salman tidak sendiri, ia punya banyak kawan yang selalu membantunya.

Sabtu sore hari yang muram. Ken bersedih dan memakai baju hitam. Ia tersedu-sedu memeluk gundukan tanah yang masih sangat baru. Di nisannya tercetak nama Sudi. Orang yang begitu dekat dengannya dalam segala hal. Sudi yang mau bermain dengan Ken ketika dua orangtuanya seharian bekerja. Sudi yang mau memancarkan ide-ide untuk cerita baru Ken. Sudi yang sering memberikan semangat bagi Ken di waktu Ken terpuruk karena gagal. Sudi adalah teman dan sahabat bagi Ken.
Kau tahu? Sudi adalah adik dari ayah Ken. Sudi adalah pamannya.

Catatan Kecil yang Ia Tulis Di Hari Minggu

Sejak membaca sebuah buku-buah tangan dari kakak yang baru pulang berlibur ke kota, aku mulai menulis cerita pendek yang sangat pendek. Di twitter, ia dinamai fiksi mini. Aku jarang mengikutinya karena jarang tahu jadwalnya. Ketinggalan tepatnya. Aku memilih membuat cuitan dengan tagar serupa – #fiksimini.

CUIT. Ada yang janggal dengan cuitan ini. Kau bisa menebaknya? Aku sendiri, tidak. Di sisi bawah kotak tweet ini, ada angka. Warnanya sudah merah. Ya, tweet ini tanpa tagar seperti yang telah kukatakan akan kusematkan dan melebihi 140 karakter.

TAJAM. Aku merasa ada yang tidak benar. Di kamarku, terbaring musang. Di luar jendela ruamhku, di samping rumah, ada harimau yang matanya mendelik. Tajam ke arahku.

SERAM(A). Setelah membaca postingan itu, aku menjadi ngeri sendiri. Ia rela dipukul dengan alat yang tumpul. Dia bilang, dia senang dan baik-baik saja. Kini, suaranya kian merdu. Dia bangga dengan itu. Dia adalah Serama. Dia bukan orang. Dia bukan perempuan atau lelaki. Serama adalah gendang.

BIDUK. Di sebuah tasik di kampung kami, sejak kemarin, secara mistis, satu biduk atau sampan tiba-tiba ada di sana. Tidak ada yang tahu siapa yang membawanya. Mungkin dibuat seseorang. Mungkin juga itu keajaiban dunia yang baru.

BANGLADESH. Kemarin, aku sempat mampir ke sebuah situs. Beberapa fakta tentang orang Bengal. Salah satunya: mereka sering menanyakan jika kau bertamu ke rumahnya, “apa yang kau makan?” Atau “apa kau sendirian?”

SIPADAN. Kawanku, Jon, marah-marah sendiri. Setelah kutanya, ia mengaku emosi karena salah satu pulau tak berpenghuni milik bunda pertiwi telah dicuri. Ia punya pemikiran baru: membawa pulang Serawak dan Sabah pada negeri ini sebagai gantinya.

ABJAD. Baru saja aku berdebat bersama Taci tentang cara membunyikan huruf “e” saat mengeja abjad: a-b-c-d-e hingga z. Aku berkukuh bahwa “e” harus dibunyikan seperti “e” pada daerah, kontes, ekuator, dan rela. Taci bersikeras kalau “e” harus dikatakan seperti “e” pada kelas, melas, peras, ceruk, dan ke.

DAN KE. Penulisan sebenarnya bukan “dan ke” melainkan danke. Danke dalam bahasa Jerman memiliki arti “terima kasih”. Terima kasih telah ingin membaca catatan kecil yang sederhana ini.

K. Miki sudah tidak tahan. Ia ingin membenarkan bahwa “tidak”, “tak”, atau kata lain yang berakhiran “k”, tidak dibaca dengan bunyi “k” sempurna, melainkan hanya tipis saja; yaitu dibaca tida’! Miki sudah memberitahukan itu berkali-kali. Tapi mereka tidak paham. Mereka menyebut Miki sebagai tunawicara.

LEBAH. Barusan Tio menelepon. Katanya, ia disengat lebah. Aku bergidik. Ceritanya, ia melompat-lompat di atas meja, yang ia tidak tahu di bawahnya ada sarang lebah. Tanpa menunggu terlewatnya banyak waktu, tiga lebah kecil terbang mengelilinginya. Dua dekat kepala, satu di dekat betisnya. Dua menyengat telinga, yang satu lagi menyengat pantatnya. Ia lari tunggang langgang. Untuk menghindari sengatan lebih banyak di badannya, ia naik ke atas pohon nangka. Dia naik sampai ranting paling tinggi. Ketika menggeser duduknya ke arah batang, kakinya menyenggol sesuatu yang besar. Sesuatu-yang-besar itu bergoyang-goyang. Tio menghentikan goyangannya dengan kakinya agar tidak jatuh.
Tio melihat ke kakinya, sekadar melihat apa yang telah disepaknya. Ia terbelalak dan tersenyum sendiri sembari bergumam, “kau tidak bercanda, bukan? Hahaha.” Gila! Itu sarang lebah. Kali ini lebah madu. Kau tahu kan, seberapa besar sarang lebah madu, dan telah dapat menebak apa yang terjadi setelah itu?
Ya, sengatan pedas berkali-kali di kakinya.

Tio bergegas turun. Berusaha kabur. Kali ini, telapak tangan dan lehernya. Lalu, kepalanya. Ia terjatuh, dan pingsan. Ia tidak tahu lagi apa yang akan terjadi setelahnya. Semuanya, tentu saja, gelap. Orang lain, orangtuanya, mungkin tahu kisah seterusnya. Tio benar-benar tidak siuman. Banyak perban dan salep nimbrung di badannya. Pasti sakit, batinku. Ngilu. Perih. Ketakutan. Serasa disetrum berkali-kali. Atau seperti digigit puluhan semut api. Masih terasa, sepertinya. Sepertinya, ia trauma. Membayangkannya, aku jadi terserang fobia ringan pada lebah.
Esok, aku akan melihat benjolan-benjolan di wajah Tio dan menemaninya seharian. Ketika aku datang, ia menonton film kartun tentang seekor lebah yang mencari ibunya di channel Cartoon Network. Channel yang selalu atau jadi pilihan utamanya ketika menyalakan televisi semenjak ia kecil. Untuk hal ini, kata Tio, tidak apa-apa. Ia belum tahu kisah selanjutnya dan bagaimana akhirnya.

DIRECTION(S). Bukan, aku bukan penggemar berat 1D. Aku hanya ingin mengemukakan fakta tentang diri sendiri. Aku tidak tahu kiri-kanan, dulu. Aku hanya tahu Lor, Kidul, Wetan, dan Kulon. Itu yang sering diajarkan dan paling tidak jarang kudengar. Sekarang, aku harus memetikkan jari kedua tangan. Petikan yang paling kuat dan terdengar nyaring, itu pasti kanan.

PURA-PURA. Ia pura-pura tidak mendengar. Pura-pura tidak tahu. Lama kelamaan ia menjadi lupa, apa yang tidak dipedulikannya. Lama kelamaan, ia benar-benar tidak tahu apa yang sudah dilewatkannya.

FREEKICK. Lastri baru tertarik dengan sepakbola setelah tahu ada tim yang bekerja keras dan punya kerja sama yang solid agar menjadi juara. Ia begitu terharu melihat perjuangan itu. Baru-baru ini, ia menonton sebuah laga yang menurutnya aneh. Pertama-tama, ia salahkan wasit. Lalu, pemain belakang yang melakukan backpass ke kiper. Selanjutnya, si kiper itu sendiri; yang menangkap bola operan temannya tepat di depan gawang. Apa wasit sudah gila? Sekarang, tim lawan melakukan tendangan bebas tepat di depan garis gawang. Tujuh pemain, dari tim yang dibanggakan Lastri, berjajar di garis gawang. Empat pemain melakukan tipuan tendangan: melangkahi bola berkali-kali. Pemain kelima, di belakang empat pemain tadi, melepaskan tendangan sekencang-kencangnya. Bola masuk. Gawang yang sedari tadi layaknya benteng suatu istana kerajaan yang kuat, akhirnya dapat dijebol. Pendukung fanatik tim lawan mengumandangkan “GOL!!!”. Tim yang didukung Lastri sedih. Lastri dan semua penggemar tim yang juga digemari Lastri kecewa. Bersamaan dengan gol itu, pertandingan berakhir. Tim lawan menang dan mengangkat piala. Lastri tidak tertawa selama dua malam dan terus menangis. Di luar, awan juga menangis. Deras. Sederas alir air mata Lastri.
Seusai dua hari tidak tertawa, ia akhirnya mencari tahu di internet dan bertanya pada temannya tentang tendangan bebas yang asing bagi pikirannya. Kata temannya -dan juga internet- keputusan wasit itu benar. Lastri menerimanya dengan lapang dada. Tapi, ada satu lagi yang menganggu pikirannya selama ini: apa itu offside? Lastri berusaha mencari tahu lagi dan tetap belum mengerti.

HILANG. Barangkali perlu aku katakan padamu. Bahwa sebelum bagian ini dibuat, ada bagian yang terhapus atau tidak tersimpan secara tak disengaja. Ketiadaan bagian itu, membuat bagian-bagian yang lain lahir tanpa diduga-duga. Jika kau kehilangan sesuatu, ikhlaskan. Ada
banyak hal yang lebih baik untuk dirimu dan itu yang kau butuhkan.

PARFUM. Jika bisa, aku akan menjadi peracik parfum. Tetapi tidak semacam parfum bermerek Hugo, Chanel, Invictus, atau yang lainnya. Aku ingin membuat parfum beraroma hujan yang segar. Sebanyak-banyaknya. Agar aku merasa, hujan bisa aku panggil kapan saja dan bau hujan atau setelahnya bisa aku simpan di semua ruang.

POSESIF. Shima membolehkanku mengekang keinginan seorang perempuan, tetapi dengan suatu syarat. “Jika kau mau tubuhmu dililit jaring laba-laba milik tarantula raksasa dan digantung terbalik!”, katanya.

Itulah beberapa catatan kecil yang bisa aku tulis dan beritahukan pada kamu. Maaf, ada beberapa yang nyeleneh. Beberapa lagi melenceng dan awut-awutan. Maklum, aku hanya mencoba memulai menulis. Memulai belajar menulis tentang segala yang aku resahkan dan terus menerus ada di kepala hingga aku benar-benar terdesak dan tak menemukan jalan lain selain menuliskannya.
Terima kasih dan terimalah rasa hormatku untuk para pembaca yang budiman, yang mampu memilah mana yang akan kalian terima, mana yang akan kalian singkirkan terlebih dulu sementara atau selamanya.
Terima kasih sudah membaca hingga kalimat-kalimat ini. Terima kasih atas waktunya.

Cerpen Karangan: Rasyad Fadhilah
Facebook: Rasyad Fadhilah
Mozaik Kisah Orang Orang Di Sekitar Ken (Part 2)

Mozaik Kisah Orang Orang Di Sekitar Ken (Part 2)

Judul Cerpen Mozaik Kisah Orang Orang Di Sekitar Ken (Part 2)

Melanggar Hak Cipta

“Keterlaluan, Bu! Putramu itu ternyata sudah pintar melanggar hak cipta.”
“Tenanglah, Pak. Ini masih pagi. Baru sejam yang lalu imsak.”
Pak Ridwan menghela napas panjang. Sebagai pimpinan sebuah penerbitan ternama di Jogja, ia pasti tak terima kelakuan anak lelakinya yang sudah bujang. Umur putranya akan menginjak tujuh belas beberapa minggu lagi. Jika ketahuan pihak berwajib, maka pasal undang-undang Hak Cipta akan mengenai anaknya. Cepat atau lambat.

Tiga hari yang lalu, Ramlan membuka lemari tua milik ayahnya. Ia mau mencari buku-buku sekolah menengah terbitan tahun sembilan puluhan. Tentu saja milik Ayahnya. Ia tak sengaja menemukan lima buku tulis yang isinya berlembar-lembar cerita pendek. Di sampulnya tertulis: Gubahan Ridwan Halim. Itu milik Ayahnya. Ramlan membacanya di sofa ketika rumah sedang sepi. Ayahnya pergi ke kantor penerbitan. Ibunya juga ke kantor pengadilan negeri -ibunya seorang hakim. Ramlan tak punya adik. Kakak apalagi. Ia anak tunggal. Anak semata wayang.
Ramlan membaca lima buku itu sampai tuntas. Setelah itu, ia tertidur pulas. Dua jam kemudian, ia bangun. Rumah masih sepi. Ramlan segera masuk kamar dan duduk di kursi yang berhadapan dengan komputer miliknya. Ia gesit berselancar di dunia maya. Ia menemukan sebuah situs yang kontennya ialah sekumpulan cerpen minggu yang dikutip dari beberapa koran ternama. Tiba-tiba tebersit dalam pikirannya untuk mengunggah cerpen-cerpen karangan Ayahnya ke web buatannya sendiri. Namun, ia tahu, bahwa ia harus mencantumkan nama Ayahnya sebagai pengarang cerita-cerita itu. Sebab situs buatannya begitu banyak pengunjungnya.

Pak Ridwan membuka situs milik anaknya. Ada beberapa judul post dengan klik terbanyak yang direkomendasikan di bagian kanan blog.
“Lihatlah, Bu. Ulah putramu sendiri. Sebelas cerita pendekku sudah diunggah ke situs miliknya.”
“Tapi, Pak, bukannya ada namamu di bawah judul setiap cerita pendek?”
“Iya, benar. Sebenarnya kesalahan anakmu jadi dua karena itu: mengupload cerpen-cerpen karanganku tanpa seizinku dan membuatku malu.”
“Malu kenapa, Pak?”
“Sebenarnya, tema cerpen yang kutulis itu kisah romantikaku dulu. Ya, nyaris semuanya kisah asmaraku yang gagal.”
“Ih, Bapak! Sebelas cerpen, sebelas kekasih bapak dulu?!” Bu Nuri meminta klarifikasi.
“Iya. Eh, bukan! Bukan begitu maksud Bapak, Bu.”
“Iya, atau bukan?”
“Aduh. Gimana, ya…”
“Malam ini, bapak tidur di luar saja!”

Ramlan baru saja mencuri dengar pertengkaran menggelikan orangtuanya. Ia menyesal mendengar kenyataannya. Ia baru sadar bahwa cerpen-cerpen karangan ayahnya, semuanya tentang percintaan. Ayahnya menjadi tokoh utamanya. Ayahnya malu. Ramlan juga malu. Celakanya, ia tidak tahu cara menghapus postingan yang diuploadnya sendiri.
Lama kelamaan, ia tidak peduli lagi dengan hal itu. Makin hari, makin banyak tawaran dari penerbit-penerbit Jakarta untuk membukukan cerpen-cerpen Ayahnya yang masuk ke dalam ponsel Ramlan.
Ramlan depresi. Akan banyak pasal dalam undang-undang yang bakal ditanggung di pundaknya. Walaupun bayangan royalti penulis yang besar terus ada di hadapan mata. Akhirnya, ia menukar SIM Card miliknya sendiri dan punya Ayahnya.

Menipu Penculik

Televisi sedang ramai mengoarkan berita modus penculikan. Rencana si penculik: menyuruh seorang anak tak dikenal yang bakal diupah permen atau uang merah untuk menangis di tengah jalan. Biar calon korban akan merasa iba, maka anak itu harus berjenis kelamin perempuan usia balita yang suka menangis jika dibentak atau didatangi orang yang asing dan belum pernah ditemui. Calon korban akan menolong anak yang pintar menangis tersebut. Di kesempatan itulah si penculik akan membekap korban dengan sapu tangan berisi opium atau obat bius lainnya. Calon korban sudah menjadi korban. Jika beruntung, ia hanya akan dibuang di tempat sepi. Jika nasibnya nahas, ia akan dibunuh dan dimutilasi.

Koran memberitakan hal yang sama. Tapi lebih menggambarkan kronologi hilangnya seseorang. Jumat, Agustus 2015. Bio (23/L) berjalan sendirian di jalan Ashoka. Seorang warga, Jaro (42/L), melihatnya menolong seorang anak kecil. Perempuan. Masih kecil. Ia membantu si adik kecil untuk menemukan rumahnya atau paling tidak orangtuanya. Korban malah diajak ke tempat si penculik. Ia dibius. Kepalanya diberi tudung hitam. Tubuhnya ditaruh di bagasi mobil Jeep. Hitam metalik. Platnya kode daerah Jakarta. B 8751 CA. Polisi sedang mengadakan pencarian, khawatir di penculik membunuh korbannya. Atau menghilangkannya tanpa bekas dari mata dunia: di bakar hidup-hidup, abunya dibiarkan ditelan ombak Laut Jawa atau Samudera Hindia. Motifnya mungkin hasrat membunuh yang ditimbulkan masalah pribadi di keseharian si penculik. Mungkin juga, salah satu orang yang sangat disayangi si penculik mengalami hal yang sama. Bisa jadi motif balas dendam. Dendam yang selama ini belum tunai dibayarkan.
Menurut kesaksian, penculik tidak sendirian. Ada satu lagi temannya. Yang satu berkulit putih pucat. Satunya lagi, temannya, kulit keling. Tubuh keduanya gempal. Tinggi. Ditaksir, yang seorang berumur kepala tiga. Seorang lagi yang kulit keling, kira-kira empat puluhan.
Perempuan mungil yang jadi umpan itu tidak bisa mengatakan petunjuk apapun. Ia diancam. Ia masih mengalami syok. Butuh sebulan lamanya untuk penyembuhannya.
Itulah yang dibaca Salman di bagian headline surat kabar harian di hari Sabtu lalu. Ia suka baca koran. Ia juga berlangganan. Sehabis membaca berita itu, muncul satu gagasan kecil dalam kepalanya.

Salman bertamu ke rumah Rahmat. Ia mau membicarakan sedikit hal yang bukan perihal pelajaran selama lima hari kemarin. Bukan. Ada yang jauh lebih penting dari itu, ternyata. Salman membawa satu eksemplar koran yang dibacanya pagi tadi.
“Ada apa, Man, tiba-tiba ke sini?” Rahmat menyambut dengan pertanyaan.
“Kau, kan, kawanku, Mat. Bisakah kau membantuku?”
“Bisa. Kapan pun kau mau. Tapi, membantu untuk apa?”
Salman menaruh koran yang dibawanya ke atas meja kaca warna hitam. Rahmat membacanya.
“Menangkap penculik?” Tanya Rahmat memastikan.
“Hanya menjebak. Polisi yang akan menangkap mereka.”
“Bagaimana rencanamu?”
Ditanya seperti itu, Salman menceritakan segala yang sudah ia susun dalam kepalanya.
Usai itu, ia balas bertanya: “Karang taruna kita masih aktif kan? Nanti malam, kita ke rumah Pak Jaro!”
“Kau tahu rumahnya, Man?”

Salman berjalan sendirian di Jalan Ashoka. Jalanan sepi. Lengang. Sesuai saran Pak Jaro tadi malam, ia mesti lewat antara waktu tengah hari sampai jam tiga. Penculik pasti akan berburu korban di waktu dan tempat sepi. Pak Jaro yakin itu. Hari ini hari yang sama seperti yang diberitakan di koran itu. Jumat. Masih di bulan Agustus.
Dari kejauhan, Salman melihat seorang anak kecil berjongkok di tengah jalan. Kedua tangannya seperti mengusap-usap kedua matanya. Ia menangis. Kesepian juga, mungkin, pikir Salman. Ia hendak menolongnya. Sekadar tahu apa benar-benar anak kecil itu menangis atau hanya dibuat-buat dengan obat tetes mata.
Semakin dekat, Salman menjadi tahu sesuatu. Anak kecil itu, perempuan! Salman ikut berjongkok. Ia mau menanyakan sebuah hal dan mencoba menghibur anak kecil itu.
“Cup-cup-cup. Sudah, jangan menangis. Adik kecil yang manis, di mana ibu-bapakmu?” Tanya Salman mencoba ramah. Ia berusaha mengalihkan kedua lengan anak kecil itu dari matanya.
Ia masih menangis. Benar-benar menangis rupanya. Air mata yang nyata keluar mengalir dari pelupuknya. Tangisannya keras. Bersamaan dengan jatuhnya dahan dan daun pohon Jati yang meranggas di musim Kemarau.
Salman mengangkat pinggang anak kecil itu. Membuatnya mampu berdiri dan mau diajak berjalan. “Tidak ada yang perlu ditakuti. Lihatlah ke atas, ada pesawat. Kamu ingin juga, kan, terbang melihat dan memegang awan?” Bujuk Salman biar ia berhenti menangis.
Anak kecil itu mengangguk. Tangannya mencoba menggapai-gapai telinga Salman. Salman mengerti. Ia membungkuk dan menyerahkan telinganya dibisiki sesuatu. “Aku ingin memegang awan dan membawanya pulang, Bang. Pasti rasanya seperti gulali warna pink, kan?”
“Ya, benar.” Tanpa sadar, anak kecil itu sudah reda tangisnya.
“Abang, baik. Tidak jahat,” katanya. Masih dengan berbisik. “Abang mau kukenalkan dengan teman yang sama baiknya dengan Abang?”
“Tentu saja, mau.” Ucap Salman sambil menyeringai.
“Ayo, ikutlah.” Ia menggenggam tangan Salman, memaksanya mengikutinya. Salman menurut.
Mereka tiba di sebuah mobil. Warna hitam metalik. Dua orang itu mendatangi Salman dan anak itu. Salman tenang. Ia tidak takut walaupun ia tahu nyawanya terancam.
Seorang yang berkulit cerah berkata. “Dasar bodoh. Kau pasti tidak pernah nonton tivi!”
“Pasti juga tidak baca berita di koran! Kau tertipu bulat-bulat! Kerja bagus, Nak!” Ujar seorang kawan penculik yang berkulit keling.
Salman masih tenang. Sebuah sapu tangan akan membekapnya dari belakang. Ia menunduk. Kakinya yang sebelah kanan menyapu tulang kering seorang yang berkulit gelap. Ia rubuh. Salman mencoba berlari dari tempat sempit di pinggir jalan itu. Ia memancing mereka ke tengah jalan yang tetap lengang.
Dua orang itu berlari mengejar Salman. Baru saja akan menangkap bahu Salman, seorang yang berkulit cerah menginjak sesuatu dan tersandung. Ia tersungkur. Sejurus kemudian, kaki kirinya seperti tertarik, dan … ia tergantung dengan kepala di bawah. Temannya kaget bukan kepalang. Ia membabi buta. Amarahnya meledak-ledak. Terlihat dari matanya yang saga dan mukanya yang merah padam. Salman bersiul nyaring-nyaring. Seseorang muncul di belakangnya: Rahmat. Bersama Pak Jaro. Saksi penting kasus penculikan minggu lalu.
Pak Jaro mengangkat kedua tangan dan bertepuk tangan nyaring. Sekumpulan orang datang. Ada lima belas polisi berjajar dengan tameng dan rompi anti peluru. Ada dua puluh satu anggota karang taruna yang mahir bela diri dan sudah mengambil kuda-kuda siap serang. Ada tujuh belas petani yang memegang cangkul dan sabit. Ada kepala desa dan puluhan kepala keluarga. Mereka, penculik itu, terkepung. Mereka pasti tidak menyangka akan digadang puluhan orang. Penculik itu, tiba-tiba air mukanya pucat. Tubuh mereka lunglai.
Salman mendekat. Dan berkata sembari berbisik. “Kalian pasti tidak baca koran juga. Di balik headline koran sabtu lalu, ada berita besar: Salman Juara Tiga Kali Berturut-turut dalam Kejuaraan Karate Tingkat Kabupaten!”
“Kali ini, kalian yang tertipu! Bukan kami!” Hardik kepala desa.

Polemik Surat Tilang

Ken ternganga melihat jam sudah melewati pukul tujuh. Ia harus tiba di sekolah lima belas menit lagi. Jika tidak, akan ada sanksi yang jadi sarapan tambahannya nanti. Ken mengeluarkan motor barunya dari garasi setelah direstui ibunya untuk berangkat. Ken menghidupkan motor automatic kepunyaannya. Rodanya melaju melewati pagar rumahnya yang tinggi.
Ken ngebut. Ken tidak peduli dengan keselamatan diri dan orang sekitarnya. Ia hanya peduli pada waktu yang makin sedikit untuk tiba di depan sekolah. Ken menerobos lampu merah. Di belakangnya, seorang polisi meniup peluit. Ken lupa, hari ini ada razia. Tapi ia merasa aneh, tadi ada pengendara lain yang tidak mengenakan helm di kepalanya. Orang itu baik-baik saja, bahkan setelah lampu hijau menyala, polisi tidak memberikan peringatan atau surat tilang.
“Selamat pagi, Adik!” Kata polisi itu.
Ken bingung. Ia ketakutan. “Se, selamat pagi, juga, Pak!” Katanya terbata-bata.
“Adik tahu kesalahan Adik apa?”
“Iya, Pak.”
“Adik mau berdamai saja untuk mempersingkat waktu? Mengingat Adik akan terlambat jika motor Adik kami tahan atau perlu mengambil surat tilang!”
“Tidak bisa, Pak. Saya ingin menjunjung integritas saja.”
“Lebih baik Adik berikan saja uangnya. Hanya 50.000 ribu Rupiah.”
“Lebih baik saya tabung, Pak. Banyak buku di Gramedia atau toko buku lain yang menunggu saya beli!”
“Adik yakin? Tidak memikirkannya baik-baik dulu. Pertimbangkanlah, uang damai atau sidang dan membayar ratusan ribu?”
“Bagaimana kalau dua-duanya, Pak?”
“Jangan membuat saya tertawa, Dik!”
“Saya tidak melucu, Pak. Saya akan berikan saksi di pengadilan bahwa ada seorang polisi yang mencoba menawari saya untuk suap-menyuap. Lagipula, kejadian hari ini bisa saya tuliskan dalam cerpen, lalu saya setorkan ke koran untuk dimuat di hari minggu. Honornya bisa saya cairkan, lalu saya belikan buku lagi. Itu sangat menguntungkan, Pak.”
“Adik punya bukti?”
“Punya, Pak. Saya rekam penawaran Bapak barusan. Boleh saya minta surat tilangnya, Pak? Oh, iya. Ini, sedekah dari saya untuk Bapak. Pergunakan baik-baik, Pak.”
Setelah perdebatan itu, akhirnya, Ken datang terlambat. Namun ia tersenyum bangga. Ia akan disidang! Rasa penasarannya bakal segera terpenuhi.

Cerpen Karangan: Rasyad Fadhilah
Facebook: Rasyad Fadhilah
Bos Galak dan Rujak Cair

Bos Galak dan Rujak Cair

Judul Cerpen Bos Galak dan Rujak Cair

“Ya Allah, sesungguhnya ini adalah siang-Mu yang telah menjelang dan Malam-Mu yang telah berlalu serta suara-suara penyeru-Mu. Maka Ampunilah aku.” Pagi ini telah kuselesaikan zikir Al-matsurat selepas shalat subuh di Mushollah depan rumahku. Hanya aku dan Pak Haji Thamrin, seorang sesepuh sekaligus pemuka agama di komplek Mahoni, tempat tinggalku.

Sebelumnya terbayang rasa amat sangat frustasi perihal kejadian kemarin di tempat kerja. Ocehan dari bossku yang menganggap karyawan di divisiku yang selalu santai disaat jam kerja. Menurutnya penjualan lewat website yang kami kelola mengalami stagnansi bahkan penurunan penjualan pemesanan online. Padahal pekerjaan mengelola dan mengoptimalisasikan website tidak seinstan pedagang keliling yang menyeduhkan kopi untuk pengunjung Panggung seni di Taman Ismail Marzuki.

“Kalau tim kalian seperti ini terus, siap-siap saja kalian buat acara Farewell Party!” Ujar boss kami dengan mata yang tajam dan suara yang berat.

“Hmm, si boss ini lagi dateng bulan kali ya. Kerja kita kan emang santai, apa kita harus duduk depan komputer, desain gambar produk sambil angkat barang dari gudang ke mobil pick up. Kerja keras nggak gitu juga kali” Keluh Rendi web design di tim kami

“Udah lah Rend, nggak usah banyak ngeluh. Lagian emang lu nya juga kan yang kerjanya lama. Desain gambar sambil pasang headset di kuping. Gimana mau fokus coba” balas Fitri, seorang content writer yang satu tim dengan kami.

“Brakkkkk” Suara gebrakan meja Rendi seketika mengagetkan kami.
“Eh, neng. Lu pikir karena gue sambil dengerin musik, kerjaan gue jadi nggak bener? Tiap orang punya cara sendiri buat fokus” Tegas Rendi dengan muka yang mulai memerah.

“Yaudahlah, nggak usah narik urat segala kali. Biasa aja kalau ngomong. Ini juga bukan buat lu doang, tapi buat Fikar, Gue sama Deny” Balas Fitri dengan nada setengah tegas.

Suasana saat itu benar-benar kaku dan dingin. Percakapan tadi merupakan percakapan terakhir sore itu, satu jam menjelang pulang. Kami melakukan kesibukan masing-masing. Fitri sibuk melanjutkan artikel website, sambil sesekali asik membaca Sinopsis film yang akan tayang di bioskop. Rendi asik menonton Anime Streaming dengan Earphone dan kurasa dia sudah jenuh untuk melanjutkan editan gambarnya sedangkan Aku yang sibuk melihat beberapa chat dari grup whatssap yang masuk di Handphoneku, sambil sesekali mengontrol website perusahaan. Meja Fikar Kosong, karena dia ambil cuti satu hari untuk mengurusi resepsi pernikahannya.

Pagi ini aku merasa beda, mungkin karena energi dari shalat subuh berjamaah dan zikir pagi tadi. Ternyata kajian dari ustdz Bachtiar Natsir yang aku tonton dari YouTube semalam mengubah persepsi hidupku hari ini. Beruntunglah aku melampiaskan kejenuhan dan frustasi yang kualami dengan cara yang tepat. Pikiran bahwa besok pasti lebih buruk dari hari ini telah sirna oleh aktivitas awal pagi yang menyegarkan. Seperti butiran embun yang melapisi jok motor yang membersihkan seluruh debu sisa kemarin.

Terbesit suatu ide untuk melengkapi indahnya hari ini. Setelah bersiap, kutancapkan gas motor matic ku menuju pasar kaget untuk sekedar membeli Sekantong penuh Rujak kemudian menuju kantor.

“Ini dia nih, calon pengantin baru. Gimana persiapan resepsinya?” Tanyaku heboh kepada Fikar.
“Alhamdulillah Den, lancar. Tinggal nunggu hari H-nya nih minggu lusa”
Aku melihat Rendy dan Fitry masih sibuk dengan komputernya masing-masing. Masih terdiam fokus.
“Eh kebetulan gua bawa rujak nih, ayo dicicipin. Seger-seger nih buahnya, langsung diambil dari kebonnya” Canda ku
“Waah, ini sih kesukaan gue. Kenapa nggak tiap hari aja sih, Den bawa beginian” Celoteh Fitri dengan suara cemprengnya.
“Rend, ayo gabung bukannya lu rujak lover, ya?” bujuk Fitri dengan nada sedikit meledek
“Kalau Ini sih gue nggak nolak, fit. Gue nggak rela kalau ini habis cuman sama lu doang.” Ujar Rendi dengan senyum nyinyir nya
“Plakk” “Eh, ini bagian gua. Maen sikat aja” teriak Fitri karena kesal, buah yang sudah dipegang fitri dimakan Rendi.
“Hahaha, udah dikasih rujak masih aja kalian pada ribut” Tawa ku menggelegar. Suasana jadi cair kembali.

Cerpen Karangan: Gus Randi
Facebook: www.facebook.com/rant.guswandy
Senja, Antara Suka dan Duka

Senja, Antara Suka dan Duka

Judul Cerpen Senja, Antara Suka dan Duka

Kala itu, jarum di dinding tak bosannya memutarkan masa, ya masa dimana manusia kian dikejar waktu. Ada seorang pria, -ia baru berkepala dua- lihat jarum jam itu sembari menyandarkan bahu di atas permukaan dipan usang, ia pandanginya sekali-kali pandangan mata ini mengarah pada Pesona –elok nan rupawan- di luar sana. Pesona keindahan yang telah membuyarkan pandangannya terhadap jarum itu. Lantas, ia dengar getaran dari ponsel –yang semula ia taruh di atas toples- kecil. Seketika itu ia buka ponsel, ia dapati pesan, pesan yang mengisyaratkan hendak membawanya ke peraduan Pesona Elok itu. Ya, ternyata dugaannya tak bertepuk sebelah tangan. Ia ambil Kuda Merahnya, terbang menuju ke suatu tempat. Tempat dimana ia dapat dari pesan tempo kala itu. Sempat ia berpikir agak gila, barangkali pesan itu –yang ia tangkap dari lemparan seorang Teman- dikirim Malaikat dari-Nya. Setelah beberapa menit Kuda Merahnya menerbangkannya, tak selang beberapa lama, mereka pun mendarat dengan mulus. Ia pun meletakkannya sekejap, guna bersua dengan temannya –beserta temannya- di sudut keramaian kota kecil nan suci. Memang benar adanya, sebuah pitutur dari seorang Piyantun Mulia (red; Kiai), “bahwasanya silaturahmi itu akan mendatangkan sebuah rezeki.” Rezeki itu pun muncul tak terduga-duga sebelumnya.

Kembali ke perjumpaan tadi, disela-sela percakapan teman-teman dengan seorang Ibu Muda, seketika itu pun pandangannya memutarkan pada arah jauh nan tak berujung. Barangkali peristiwa elok itu yang ia dapati dengan keberuntungan. Bisa dibayangkan elok nan indahnya, pandangan yang sekejap menyita perhatian sang pemuda kala itu, berada di balik Rumah-Nya yang tampak penuh ramai dari orang bersembahyang. “Subhanallah, ayune nda, koyok widodari,” batinnya berkelakar dalam Bahasa Jawa. Pandangan mata pria berbadan tinggi itu pun beralih ke kiri tatkala ibu muda tadi bertanya padanya sembari menawarkan, “Badhe mileh nopo, Mas?,” tanyanya. Sontak ia pun menimpalinya dengan kaget, “Oh gih, niku mawon, Bu. Sate usus, Sate Bakso kaleh Bakwan,” sahutnya sembari menunjuki ke nampan-nampan tersebut.

Lantas, percakapan yang semula terputus mereka sambung sedikit, diselingi dengan pertunjukan penampakan fenomena bak lukisan alam dari Sang Pencipta. Rasa-rasanya seketika itu, batinnya bergejolak meningkahi keindahan lukisan-Nya. Ya bergejolak, “antara suka dan duka”.
Sang Ibu Muda yang sejak tadi telah menyiapkan kudapan yang ia pilih tadi, menawarinya kembali, “Mas, niki pedes nopo mboten?,” tawarnya. “Kedik mawon gih, Bu,” pintanya. Lalu, tawar-menawarpun berhenti sekejap. Setelah pesanan jadi, mereka berempat pun hendak melepaskan dudukan dari atas dipan kayu panjang. Perjumpaan –singkat nan berkesan- ini mungkin akan jadi kenangan kedepannya. Sembari mereka berpamitan dengan Ibu Muda serta Suami yang sejak tadi membantu di samping kanannya, mereka pun bergegas meninggalkan tempat itu lantaran waktu itu sang Cakrawala telah memadamkan Pancaran kemerah-meronanya. Dengan saling berpisah satu sama lain, ia yang sedari perpisahan perjumpaaan tadi, terus setia menunggangi Kuda Merahnya kembali.

Dalam perjalanan pulang, ia dalam batin pun kembali bergejolak menafsirkan tiap-tiap peristiwa tadi, utamanya “Pesona Elok” yang sinarnya memancar dari ufuk barat. Ya menafsirkan, antara dua tafsiran. Pertama, dirinya gembira telah jadi saksi akan dahsyat nan luar biasa elok Lukisan-Nya. Kegembiraan yang cukup mengobati perasaan getir yang ia alami akhir-akhir ini. Kedua, dimana kontrak tinggalnya di dunia ini yang penuh dengan coretan hitam, telah berkurang. Serta ia pun semakin menua dengan tanpa ia sadari sendiri.

Kudus, 8 Agustus 2016

Cerpen Karangan: Muhammad Khoirul Faizin
Facebook: Muhammad Khoirul Faizin
Krisis Identitas

Krisis Identitas

Judul Cerpen Krisis Identitas

Hari ini, dari mulai membuka mata pada pagi hari sampai tulisan ini dibuat pada pukul sebelas malam, perasaan gelisah bercampur dengan rasa sesal dalam hidup berkecamuk dalam diri ini. Paparan kronologisnya sudah dimulai sejak pagi hari.

Saat matahari terbit seolah semangat dan optimisme kembali terisi penuh. Kegiatan membersihkan rumah, mulai dari menyikat lantai kamar mandi, menguras bak mandi sampai membereskan kamar Ibu dan keponakan dilakukan dengan semangat yang menggebu. Beranjak sedikit siang setelah semua usai, aktifitas selanjutnya mandi, kegiatan ini juga masih kuisi dengan semangat yang cukup menggebu, karena rencana pendek yang sudah tergambar setelah aku mandi yaitu menyeduh dan menikmati kopi pagi ditemani sebungkus rok*k. Semangat menyeduh kopi dan menikmati setiap hisapan sebatang rok*k selalu muncul hanya di awal saja, sama seperti hari-hari sebelumnya. Ditengah dan akhir kedua kebiasaan yang selalu dilakukan bergantian tersebut, perenungan (kalau boleh disebut seperti itu) mulai mengganggu kenikmatan aktifitas itu. Seolah pikiran ini menuntut aku agar melakukan akttifitas tambahan lainya, entah apapun itu. Karena aku seorang jobseeker (kalau tidak mau dibilang pengangguran) maka dengan cepat kubuka situs lowongan kerja melalui handphone (HP).

Sebenarnya beberapa hari sebelumnya aku sudah mendapatkan kesempatan tes tulis di salah satu sekolah swasta berbasis agama Islam, yang surat lamaranya sudah aku masukan jauh-jauh hari sebelumnya. Tapi aku sudah membiasakan diri untuk tidak menunggu atau berharap lebih terhadap sesuatu. Aku sudah sering dikecewakan dengan harapan yang berlebih. Dan seolah rasa pesimisme lebih dominan dalam diriku ketimbang rasa optimisme. Temanku sempat bertanya ketika aku mampir setelah melaksanakan tes tulis yang lokasinya tidak jauh dari tempat kos temanku. Dia bertanya “gimana de (panggilan akrabku) tesnya?” aku menjawab “ya begitulah, gak terlalu mengharap” kemudian temanku menjawab “loh kok pesimis gitu, berdoalah supaya tesnya bisa lolos” kujawab dengan senyum agak meledek “realistis aja”

Hari ini aku isi dengan penuh kelesuan setelah semua pekerjaan rumah aku kerjakan, seolah sudah semua hal aku telah lakukan. Kopi yang kubuat juga tidak aku habiskan dan masih tergeletak di depan meja monitor komputer. Dengan tubuh yang kurebahkan di kasur dan HP di genggaman aku mulai membuka situs lowongan kerja dan hasilnya seperti yang sudah aku duga. Sulit sekali mencari pekerjaan yang sesuai dengan bidangku yaitu Sosiologi. Halaman facebook sudah kubuka hampir sepuluh kali mungkin, karena saking jenuhnya tidak ada aktifitas yang aku bisa lakukan. Hari ini pun aku mandi cukup siang sekitar pukul 10 pagi. Setelah mandi aku pergi ke kamar dan menyalakan TV. Sebenarnya aku kurang begitu suka menonton acara TV, tetapi karena bingung mau melakukan aktifitas apa ya sudahlah. Acara TV hanya aku ganti-ganti saja tanpa fokus melihat satu acara TV, sepuluh menit kemudian aku matikan TV, karena rasa jenuh tetap tidak terhindarkan. Kuputuskan untuk ke luar kamar dan melihat aktifitas Ibu di ruang TV. Kulihat ibu sedang duduk tenang menyaksikan TV. Begitu beliau melihatku beliau berkata “Mau kerja bakti ta Ndik?” kujawab dengan muka masam “tidak bu”, kuambil botol minum dari lemari pendingin, kuminum tidak sampai habis dan kuletakan kembali ke dalam kulkas. Aku kembali ke dalam kamar, sebenarnya tadi selain aku ingin melihat Ibu, aku juga ingin melaksanakan Ibadah sholat Dzuhur karena saat itu sudah pukul 12 siang, tapi karena ibu menanyakan apakah aku ingin kerja bakti maka moodku langsung berubah dan urung melaksanakan niat tersebut. pertanyaan Ibu tersebut seolah ingin menyindir aku bahwa aku ini anak yang kurang bersosialisasi dengan tetangga. Hal tersebut memang benar dan aku akui. Aku terkadang merasa bahwa diriku ini orang yang aneh, karena memiliki kepribadian ganda. Disaat tertentu aku sangat introvert tapi disaat lain aku bisa menjadi ekstrovert. Keanehan inilah yang terkadang mengganggu hubunganku dengan lingkungan sekitar. Dan keanehan ini juga membuatku merasa malu menyandang gelar sebagai sarjana Sosiologi yang harusnya bisa sepenuhnya menjadi seorang yang ekstrovert.

Kembali dengan aktifitasku yang tadi kujelaskan bahwa aku memutuskan kembali ke kamar. Pada saat inilah pergumulanku dengan pikiran kembali mengusiku. Terngiang dalam pikiranku tentang apa yang sudah kualami dalam hidup. seolah aku belum memiliki identitas yang pasti melalui kemampuan pasti yang kumiliki. Aku sangat iri dengan teman-temanku yang sudah banyak mendapatkan pencapaian. Teman-temanku seolah memiliki bakat khusus di setiap dirinya. Ada yang berbakat bermain musik, olahraga, faham dengan politik sehingga terjun sebagai aktifis dan masih banyak lagi. Aku sering membandingkan teman-temanku itu dengan diriku sendiri. Aku merasa tidak memiliki bakat khusus, aku bertanya kepada diri sendiri “apa yang aku bisa?” musik tidak, olah raga aku hindari, pemahaman politik setengah-setengah, menulis juga masih berantakan (lihat saja tulisan ini). Aku merasa seolah aku tidak berguna. Bahkan pikiran untuk bunuh diri sering terbersit dalam benak. Untuk apa manusia seperti aku ini hidup, yang aktifitasnya hanya bisa menghabiskan uang orangtua untuk membeli sebungkus rok*k dua hari sekali, menghabiskan sumber daya air untuk kebutuhan mandi, buang air dan menyeduh kopi dan masih banyak lagi. Dan perasaan bahwa aku ini orang yang tidak berguna adalah aku tidak bisa memenuhi ekspektasi Ibuku. Lihat saja tingkahku yang tidak mau mengikuti kerja bakti sehingga Ibu menjadi malu dengan tetangga sekitar, lihat saja perilakuku yang terkadang sering menolak bahkan membentak ketika ibu menyuruh sesuatu, dan lihatlah aku yang sampai saat ini masih belum bisa memberikan hasil keringatku karena sampai sekarang aku masih belum mendapat pekerjaan.

Semua permasalahan tentang rasa tidak bergunanya diriku ini, seolah pertanda bahwa aku memang sedang mengalami krisis identitas. Mau jadi apakah aku ini kelak, mengingat bakat khusus pun aku masih belum bisa temukan dalam diriku? Inilah pertanyaan besar yang selalu menggelayut dalam pikiran dan merusak suasana tenang ditengah aku menyeruput kopi dan menghisap rok*k. Apakah aku memang harus bunuh diri? Agar orang seperti aku ini tidak membikin dunia semakin sumpek dan sesak?

Cerpen Karangan: Achmad Soefandi
Facebook: Achmadsoefandi[-at-]gmail.com