Judul Cerpen Terkadang Kebenaran Menyakitkan (Part 1)
Suara tangisan berdengung dari ruangan itu, seorang pria, yang juga kepala keluarga, baru saja kembali ke pangkuan sang illahi, sang anak, Rahmad, adalah yang hatinya paling tersakiti, kematian ayahnya merupakan tamparan keras bagi dirinya dan setiap orang di ruangan tersebut. “Saya tidak menyangka kalau kemarin adalah kali terakhir bisa mendengar suara ayah” tangisan Rahmad semakin keras, sang ayah tewas terbunuh oleh tragedi yang tidak terpikirkan. Sang ibu pingsan, lantaran tidak percaya suaminya telah tiada.
Beberapa saat setelah pemakaman, pesan terakhir sang ayah masih terngiang di pikiranya, “Jangan lupa jaga shalatmu, nak. Dan jauhilah dendam, sesungguhnya dendam itu tiadalah berguna melainkan membuang waktu dan menambah dosa”. Begitulah pesan akhir sang ayah. Masih terpikir, bagaimana ia menyaksikan saat jiwa sang ayah meninggalkan tubuhnya, tiga buah tembakan yang keras, hingga mengejutkan tetangga sekitar, anggota keluarga yang lain terbangun seketika, dalam beberapa menit, ia sudah tidak bernyawa.
“Ikhlasin saja ayah, dik. Ini sudah takdir sang illahi” sang kakak merangkul bahu rahmad, yang masih menatap batu nisan yang ayah. “Ikhlas dan sabar memiliki batasan, kak rumi, yang saya inginkan hanyalah sebuah jawaban, mengapa dia tega menghabisi nyawa ayah”, Rahmad menggenggam tangan sang kakak dengan keras, Luapan kemarahan telah menguasai dirinya.
“Biarlah pihak yang berwajib menyelesaikan semua ini dik” sang kakak mengelus dahi rahmad dengan lembut. Rahmad hanya terdiam, saat sang kakak kembali ke rumah duka, dia masih memilih untuk duduk disana. Bagian-bagian dari ingatan kematian sang ayah kembali terlintas di pikirannya. Berjam-jam merenung di pemakaman, saat mendung datang dan petir menyambar, dia memutuskan untuk kembali ke rumah.
Sang ibu dan kakak, juga para tetangga lain tengah bersiap untuk tahlilan, Rahmad mendekati ibunya, memeluk ibunya, dan menangis kuat, “ini semua salah saya ibu”, sang ibu kembali merasakan keharuan, namun, dia harus tetap tegar dan menyembunyikan kesedihannya di depan anak-anaknya, “tidak ada yang bisa lari dari suratan takdir, anakku, sudah digariskan kalau dengan cara seperti itulah ayahmu meninggalkan dunia, suka atau tidak, kita harus menerimanya”.
Pandangan rahmad mulai menuju ke arah lain, ketika seorang pria berkumis tipis, berambut cepak, dan berbadan kurus, datang ke pemakaman itu. Rahmad segera berlari dari tempat berdirinya dan menghantamkan tangannya ke wajah Pria itu. Semua orang di rumah itu terkejut dengan apa yang terjadi, “apa yang kau lakukan disini, pembunuh berdarah dingin, ingin mengucapkan rasa senang atas duka yang kami alami”. Rahmad terus memukul pria itu hingga darah mulai mencucur dari hidung sang pria, beberapa tamu disana memisahkan mereka berdua.
Sang pria hanya terdiam, sementara Rahmad terus berteriak kesetanan, Luapan emosi kembali menyelubungi dirinya, sang ibu datang dan menenangkannya, “Sabar, anakku sayang, istigfar, jangan biarkan kemarahan menguasai dirimu, nak”. Memori rahmad kembali terlintas di malam kejadian, dimana dia baru saja menyelesaikan beberapa pekerjaan sekolah, Saat memasuki rumah, yang dia lihat adalah pertengkaran sang ayah dengan pria berbadan kurus itu, Lama melihat pertengkaran yang terjadi, sang pria melihatnya dan mengancam akan kepada sang ayah untuk menghabisi nyawa anaknya.
“Saya tidak akan pernah sabar” Rahmad memberontak, dia pergi ke dapur rumah dan mengambil pisau, Sang kakak mencoba mencegah dengan hal yang akan adiknya lakukan, namun semua itu percuma. Seluruh tertangga berteriak histeris ketika Rahmad melemparkan pisau tersebut ke kaki sang pria, pria tersebut berteriak sekencang kencangnya, sedangkan sang ibu, kini sudah tidak tahan melihat kelakuan anaknya, menampar sang anak dan memarahinya, “apa yang kamu lakukan, Rahmad? Belum jelaskan yang ibu katakan, suka atau tidak, kita harus menerima apa yang sedang kita hadapi.”
Rahmad menangis dengan wajah penuh dendam menjawab dengan keras perkataan ibunya, “Apa yang pria itu lakukan, harus mendapat balasan yang setimpal, nyawa dibalas dengan nyawa”, Sang ibu kembali menampar anaknya. “Ibu tidak pernah membesarkan kamu untuk menjadi seorang yang mencabuti nyawa orang lain sesukanya!, apa kamu sadar apa yang sebenarnya terjadi tadi malam, begitu lugunya dirimu sehingga tidak menyadari apa yang sebenarnya terjadi” Teriak sang ibu membuat Rahmad Bingung, “Apa maksudnya, Ibu?”. Sang ibu hanya diam, memandang tajam mata sang anak, dan tidak menjawab pertanyaannya.
“Cobalah mengingat dengan baik, dik, apa yang kamu lakukan tadi malam!”. Rahmad semakin bingung mendengar kata-kata yang terujar dari mulut kakaknya, Rahmad terdiam, mencoba mengingat bagian bagian memori yang kini telah menyatu setelah pecah berkeping keping.
Terlintas kembali di kepalanya yang terjadi di malam tersebut, dimana dia pergi ke pesta ulang tahun Andini, temannya. Sang ibu menelepon Rahmad dan menyuruh anaknya untuk segera kembali ke rumah dikarenakan telah larut malam, “Sebentar ibu, sedang asik”.
Sang ibu berpesan kepada Rahmad untuk pulang tidak lebih dari jam 10 malam. Hanya itu yang Rahmad ingat, Dia mencoba mengingat kembali kejadian kejadian yang terjadi di tengah malam lalu, dia meminum minuman keras di rumah Andini, Karena terlalu terlena dengan waktu, Rahmad pun berpesta hingga Jam 12 Malam.
Melihat keadaannya yang terlalu mabuk, Adik Andini, Anto, mengantarkan Rahmad pulang ke rumah.
Dan hanya itu yang terlintas di pikiran Rahmad, tidak ada lagi selain itu, dia menjelaskan semua itu kepada sang ibu dan kakak, semua tetangga terbelalak mendengar kalimat yang menyebutkan Rahmad meneguk minuman keras.
“Sungguh Ada bagian lain yang kamu lupakan anakku, Bagian terpenting, dan bila kamu mengingat ini, ibu yakin perasaanmu akan hancur” Begitu kata sang ibu kepada Rahmad, Rahmad semakin bingung dengan Teka-Teki dan misteri di balik kematian Ayahnya yang belum terungkapkan.
Cerpen Karangan: Rizky Aditya
Facebook: facebook.com/rizky.aditya.1044186
Instagram: Rizkysalvatore_cruz
Suara tangisan berdengung dari ruangan itu, seorang pria, yang juga kepala keluarga, baru saja kembali ke pangkuan sang illahi, sang anak, Rahmad, adalah yang hatinya paling tersakiti, kematian ayahnya merupakan tamparan keras bagi dirinya dan setiap orang di ruangan tersebut. “Saya tidak menyangka kalau kemarin adalah kali terakhir bisa mendengar suara ayah” tangisan Rahmad semakin keras, sang ayah tewas terbunuh oleh tragedi yang tidak terpikirkan. Sang ibu pingsan, lantaran tidak percaya suaminya telah tiada.
Beberapa saat setelah pemakaman, pesan terakhir sang ayah masih terngiang di pikiranya, “Jangan lupa jaga shalatmu, nak. Dan jauhilah dendam, sesungguhnya dendam itu tiadalah berguna melainkan membuang waktu dan menambah dosa”. Begitulah pesan akhir sang ayah. Masih terpikir, bagaimana ia menyaksikan saat jiwa sang ayah meninggalkan tubuhnya, tiga buah tembakan yang keras, hingga mengejutkan tetangga sekitar, anggota keluarga yang lain terbangun seketika, dalam beberapa menit, ia sudah tidak bernyawa.
“Ikhlasin saja ayah, dik. Ini sudah takdir sang illahi” sang kakak merangkul bahu rahmad, yang masih menatap batu nisan yang ayah. “Ikhlas dan sabar memiliki batasan, kak rumi, yang saya inginkan hanyalah sebuah jawaban, mengapa dia tega menghabisi nyawa ayah”, Rahmad menggenggam tangan sang kakak dengan keras, Luapan kemarahan telah menguasai dirinya.
“Biarlah pihak yang berwajib menyelesaikan semua ini dik” sang kakak mengelus dahi rahmad dengan lembut. Rahmad hanya terdiam, saat sang kakak kembali ke rumah duka, dia masih memilih untuk duduk disana. Bagian-bagian dari ingatan kematian sang ayah kembali terlintas di pikirannya. Berjam-jam merenung di pemakaman, saat mendung datang dan petir menyambar, dia memutuskan untuk kembali ke rumah.
Sang ibu dan kakak, juga para tetangga lain tengah bersiap untuk tahlilan, Rahmad mendekati ibunya, memeluk ibunya, dan menangis kuat, “ini semua salah saya ibu”, sang ibu kembali merasakan keharuan, namun, dia harus tetap tegar dan menyembunyikan kesedihannya di depan anak-anaknya, “tidak ada yang bisa lari dari suratan takdir, anakku, sudah digariskan kalau dengan cara seperti itulah ayahmu meninggalkan dunia, suka atau tidak, kita harus menerimanya”.
Pandangan rahmad mulai menuju ke arah lain, ketika seorang pria berkumis tipis, berambut cepak, dan berbadan kurus, datang ke pemakaman itu. Rahmad segera berlari dari tempat berdirinya dan menghantamkan tangannya ke wajah Pria itu. Semua orang di rumah itu terkejut dengan apa yang terjadi, “apa yang kau lakukan disini, pembunuh berdarah dingin, ingin mengucapkan rasa senang atas duka yang kami alami”. Rahmad terus memukul pria itu hingga darah mulai mencucur dari hidung sang pria, beberapa tamu disana memisahkan mereka berdua.
Sang pria hanya terdiam, sementara Rahmad terus berteriak kesetanan, Luapan emosi kembali menyelubungi dirinya, sang ibu datang dan menenangkannya, “Sabar, anakku sayang, istigfar, jangan biarkan kemarahan menguasai dirimu, nak”. Memori rahmad kembali terlintas di malam kejadian, dimana dia baru saja menyelesaikan beberapa pekerjaan sekolah, Saat memasuki rumah, yang dia lihat adalah pertengkaran sang ayah dengan pria berbadan kurus itu, Lama melihat pertengkaran yang terjadi, sang pria melihatnya dan mengancam akan kepada sang ayah untuk menghabisi nyawa anaknya.
“Saya tidak akan pernah sabar” Rahmad memberontak, dia pergi ke dapur rumah dan mengambil pisau, Sang kakak mencoba mencegah dengan hal yang akan adiknya lakukan, namun semua itu percuma. Seluruh tertangga berteriak histeris ketika Rahmad melemparkan pisau tersebut ke kaki sang pria, pria tersebut berteriak sekencang kencangnya, sedangkan sang ibu, kini sudah tidak tahan melihat kelakuan anaknya, menampar sang anak dan memarahinya, “apa yang kamu lakukan, Rahmad? Belum jelaskan yang ibu katakan, suka atau tidak, kita harus menerima apa yang sedang kita hadapi.”
Rahmad menangis dengan wajah penuh dendam menjawab dengan keras perkataan ibunya, “Apa yang pria itu lakukan, harus mendapat balasan yang setimpal, nyawa dibalas dengan nyawa”, Sang ibu kembali menampar anaknya. “Ibu tidak pernah membesarkan kamu untuk menjadi seorang yang mencabuti nyawa orang lain sesukanya!, apa kamu sadar apa yang sebenarnya terjadi tadi malam, begitu lugunya dirimu sehingga tidak menyadari apa yang sebenarnya terjadi” Teriak sang ibu membuat Rahmad Bingung, “Apa maksudnya, Ibu?”. Sang ibu hanya diam, memandang tajam mata sang anak, dan tidak menjawab pertanyaannya.
“Cobalah mengingat dengan baik, dik, apa yang kamu lakukan tadi malam!”. Rahmad semakin bingung mendengar kata-kata yang terujar dari mulut kakaknya, Rahmad terdiam, mencoba mengingat bagian bagian memori yang kini telah menyatu setelah pecah berkeping keping.
Terlintas kembali di kepalanya yang terjadi di malam tersebut, dimana dia pergi ke pesta ulang tahun Andini, temannya. Sang ibu menelepon Rahmad dan menyuruh anaknya untuk segera kembali ke rumah dikarenakan telah larut malam, “Sebentar ibu, sedang asik”.
Sang ibu berpesan kepada Rahmad untuk pulang tidak lebih dari jam 10 malam. Hanya itu yang Rahmad ingat, Dia mencoba mengingat kembali kejadian kejadian yang terjadi di tengah malam lalu, dia meminum minuman keras di rumah Andini, Karena terlalu terlena dengan waktu, Rahmad pun berpesta hingga Jam 12 Malam.
Melihat keadaannya yang terlalu mabuk, Adik Andini, Anto, mengantarkan Rahmad pulang ke rumah.
Dan hanya itu yang terlintas di pikiran Rahmad, tidak ada lagi selain itu, dia menjelaskan semua itu kepada sang ibu dan kakak, semua tetangga terbelalak mendengar kalimat yang menyebutkan Rahmad meneguk minuman keras.
“Sungguh Ada bagian lain yang kamu lupakan anakku, Bagian terpenting, dan bila kamu mengingat ini, ibu yakin perasaanmu akan hancur” Begitu kata sang ibu kepada Rahmad, Rahmad semakin bingung dengan Teka-Teki dan misteri di balik kematian Ayahnya yang belum terungkapkan.
Cerpen Karangan: Rizky Aditya
Facebook: facebook.com/rizky.aditya.1044186
Instagram: Rizkysalvatore_cruz
Terkadang Kebenaran Menyakitkan (Part 1)
4/
5
Oleh
Unknown
