Judul Cerpen Cinta Pertama Bukan Cinta Terakhir
Di malam yang dingin ini aku terbaring di tempat tidurku. oh ya namaku rere, ku teringat kisah lamaku, meski sekarang ku sudah bersama dengan seseorang yang begitu menyayangiku walaupun awalnya aku belum terlalu yakin padanya, namanya arifin.
Ketika aku asyik dengan lamunanku tiba-tiba HPku berdering kulihat panggilan masuk, ternyata yang nelepon arifin.
“Hallo yang” jawabku dengan nada lemes
“Iya yang, kamu kenapa? Kok suara kamu gitu?! Kamu sakit ya?” Tanya arif dengan cemas,
“Gak kok, cuman capek aja kok”. Jawabku
“Ya udah kamu ganti baju dulu, makan habis itu sholat ya yang, nanti aku telepon lagi yang” jawabnya dengan perhatian. “Iya yang” jawabku masih dengan nada rendah
Seketika ku kembali dalam lamunanku, ku teringat pada seseorang yang dulu pernah nyakitin hatiku. Dia begitu berbeda dengan arifin, walaupun dia cuek tapi dia sangat sayang padaku. Kalau arifin lebihnya ke perhatian dan kasih sayangnya. Dia adalah mantanku ari, teman masa kecilku dan arifin.
Ari adalah cinta pertamaku, apa kata orang cinta pertama bukan berarti cinta terakhir kita nanti. Aku dan dia sempat pacaran walaupun putus nyambung selama 3 tahunan. Perjalanan cinta kami tak semulus seperti yang lain, kami sering ribut makanya kami putus nyambung. Banyak orang yang support hubungan kami karena kami bisa tetap menyatu tapi ada juga yang tak suka dengan kami. Suatu hari dia juga sempatkan diri main-main ke tempatku dari kota jakarta ke bandung, walaupun kami sama-sama anak perantau dari sumatera. Masalahnya bermula setelah dia pulang dari bandung. Beberap minggu di sana dia mengabariku lewat sms dan langsung marah-marah. Lalu aku lanjut meneleponnya
“hallo” kataku.
“Iya hallo” katanya dengan nada ketus
“Kamu kenapa marah dan ngomong seperti itu” jawabku menahan perih
Dia langsung marah-marah “apa maksud kamu jelekin aku ke teman kamu, dan saudara kamu, kamu tu ya benar-benar parah, asal kamu tau aku nyesal percaya kata kamu”
Aku kaget dengar semua tuduhannya dan semua katanya, sontak air mata langsung ke luar dan ku matiin telepon itu. Aku pun langsung nelepon temanku dan menceritakan ke temanku. Padahal aku gak pernah cerita apa-apa tentangnya ke siapa pun.
Akhirnya aku curhat dan aku terkejut mendengar cerita temanku tentang dia. Di balik kemarahannya ternyata ada seseorang yang fitnah aku karena dia tak suka dengan hubunganku. Sontak aku terkejut karena orang itu sahabatnya sendiri. Dan akhirnya aku menelepon dia lagi dan menceritakan yang kutau tapi dia semakin marah. Dia tak terima sahabatnya yang dituduh, dan dia berbalik menyalahkan temanku. Sampai akhirnya kami bertengakar hebat dan aku sangat membencinya sampai sekarang
Beberapa bulan setelah itu aku sudah menganggap dia bukan siapa-siapaku lagi tapi aku terkejut dengan pengakuan sahabat lamaku yang bilang kalau selama ini aku belum putus dengan ari karena pengakuannya kepada temanku. Padahal aku sudah dengan arifin, langsung kutelepon temanku
“Hallo ty, kata siapa aku sama dia, kami tu sudah putus ty” jawabku
“Hallo juga, dianya yang bilang gitu, aku heran sama kalian, kenapa bisa putus gitu?” Tanya temanku heran
“karena sudah gak cocok lagi, dan aku pun sudah punya yang baru” jawabku
“Iya deh, bagiku kamu bahagia aja, aku gak mau sahabatku sedih” jawab sahabatku.
Di dalam hatiku terus bertanya kenapa aris ngaku begitu tanpa pikir panjang aku beranikan diri untuk bertanya padanya. Aku langsung meneleponnya
“hallo, boleh nanya gak?” Aku langsung nanya dan to the point aja
“Iya, kamu mau nanya apa” jawab dengan tenangnya
“Kenapa kamu bilang ke teman aku kalau kita masih pacaran, pada hal kamu selama ini kita gak pernah komunikasi, dan maaf aku sudah gak bisa” jawabku dengan nada kecewa. Dan langsung matikan telepon
Keesokan harinya dia sudah mengetahui hubungan aku dengan temannya arifin, dan langsung meneleponku dan menanyakan itu. Aku pun menjelaskannya dan bilang padanya kalau aku sudah dengan arifin saat itu juga dia kecewa dan bilang padaku dengan suara terisak menanggis “semoga kamu bahagia dan makasih atas semuanya, aku juga ingin sendiri”. Aku pun menjawab “jangan salahkan aku, ini kulakukan karena aku ingin bahagia dan tak bisa bersamamu lagi, karena kamu tak pernah percaya aku dan meninggalkan aku, aku cukup bahagia dengannya sekarang”
Sejak saat itu kami tak saling mengetahui lagi, bagiku luka yang pernah terukir itu sangatlah menyakitkan hatiku, seperti luka yang diberi air laut yang asin begitu perih dan sakit, ketika dia lebih percaya orang yang salah.
Sekarang aku cukup menjadikannya masa laluku, karena aku ingin bahagia dengan masa depanku yang sekarang bersama orang yang kusayang.
Saat lamunan terus terbayang aku dikagetkan dengan dering HPku ternayata arifin nelepon lagi. Kucerita kan semuanya, aku bahagia bisa milikin arifin karena dia sangat mengerti dan memahami hatiku.
Aku bersyukur pada TUHAN karena menggantikan seseorang dengan orang yang begitu sayang padaku.
“AKU SAYANG KAMU ARIFIN” karena cinta pertama bukanlah cinta terakhir.
Cerpen Karangan: Reysa Novitri
Facebook: Rere Rn
Di malam yang dingin ini aku terbaring di tempat tidurku. oh ya namaku rere, ku teringat kisah lamaku, meski sekarang ku sudah bersama dengan seseorang yang begitu menyayangiku walaupun awalnya aku belum terlalu yakin padanya, namanya arifin.
Ketika aku asyik dengan lamunanku tiba-tiba HPku berdering kulihat panggilan masuk, ternyata yang nelepon arifin.
“Hallo yang” jawabku dengan nada lemes
“Iya yang, kamu kenapa? Kok suara kamu gitu?! Kamu sakit ya?” Tanya arif dengan cemas,
“Gak kok, cuman capek aja kok”. Jawabku
“Ya udah kamu ganti baju dulu, makan habis itu sholat ya yang, nanti aku telepon lagi yang” jawabnya dengan perhatian. “Iya yang” jawabku masih dengan nada rendah
Seketika ku kembali dalam lamunanku, ku teringat pada seseorang yang dulu pernah nyakitin hatiku. Dia begitu berbeda dengan arifin, walaupun dia cuek tapi dia sangat sayang padaku. Kalau arifin lebihnya ke perhatian dan kasih sayangnya. Dia adalah mantanku ari, teman masa kecilku dan arifin.
Ari adalah cinta pertamaku, apa kata orang cinta pertama bukan berarti cinta terakhir kita nanti. Aku dan dia sempat pacaran walaupun putus nyambung selama 3 tahunan. Perjalanan cinta kami tak semulus seperti yang lain, kami sering ribut makanya kami putus nyambung. Banyak orang yang support hubungan kami karena kami bisa tetap menyatu tapi ada juga yang tak suka dengan kami. Suatu hari dia juga sempatkan diri main-main ke tempatku dari kota jakarta ke bandung, walaupun kami sama-sama anak perantau dari sumatera. Masalahnya bermula setelah dia pulang dari bandung. Beberap minggu di sana dia mengabariku lewat sms dan langsung marah-marah. Lalu aku lanjut meneleponnya
“hallo” kataku.
“Iya hallo” katanya dengan nada ketus
“Kamu kenapa marah dan ngomong seperti itu” jawabku menahan perih
Dia langsung marah-marah “apa maksud kamu jelekin aku ke teman kamu, dan saudara kamu, kamu tu ya benar-benar parah, asal kamu tau aku nyesal percaya kata kamu”
Aku kaget dengar semua tuduhannya dan semua katanya, sontak air mata langsung ke luar dan ku matiin telepon itu. Aku pun langsung nelepon temanku dan menceritakan ke temanku. Padahal aku gak pernah cerita apa-apa tentangnya ke siapa pun.
Akhirnya aku curhat dan aku terkejut mendengar cerita temanku tentang dia. Di balik kemarahannya ternyata ada seseorang yang fitnah aku karena dia tak suka dengan hubunganku. Sontak aku terkejut karena orang itu sahabatnya sendiri. Dan akhirnya aku menelepon dia lagi dan menceritakan yang kutau tapi dia semakin marah. Dia tak terima sahabatnya yang dituduh, dan dia berbalik menyalahkan temanku. Sampai akhirnya kami bertengakar hebat dan aku sangat membencinya sampai sekarang
Beberapa bulan setelah itu aku sudah menganggap dia bukan siapa-siapaku lagi tapi aku terkejut dengan pengakuan sahabat lamaku yang bilang kalau selama ini aku belum putus dengan ari karena pengakuannya kepada temanku. Padahal aku sudah dengan arifin, langsung kutelepon temanku
“Hallo ty, kata siapa aku sama dia, kami tu sudah putus ty” jawabku
“Hallo juga, dianya yang bilang gitu, aku heran sama kalian, kenapa bisa putus gitu?” Tanya temanku heran
“karena sudah gak cocok lagi, dan aku pun sudah punya yang baru” jawabku
“Iya deh, bagiku kamu bahagia aja, aku gak mau sahabatku sedih” jawab sahabatku.
Di dalam hatiku terus bertanya kenapa aris ngaku begitu tanpa pikir panjang aku beranikan diri untuk bertanya padanya. Aku langsung meneleponnya
“hallo, boleh nanya gak?” Aku langsung nanya dan to the point aja
“Iya, kamu mau nanya apa” jawab dengan tenangnya
“Kenapa kamu bilang ke teman aku kalau kita masih pacaran, pada hal kamu selama ini kita gak pernah komunikasi, dan maaf aku sudah gak bisa” jawabku dengan nada kecewa. Dan langsung matikan telepon
Keesokan harinya dia sudah mengetahui hubungan aku dengan temannya arifin, dan langsung meneleponku dan menanyakan itu. Aku pun menjelaskannya dan bilang padanya kalau aku sudah dengan arifin saat itu juga dia kecewa dan bilang padaku dengan suara terisak menanggis “semoga kamu bahagia dan makasih atas semuanya, aku juga ingin sendiri”. Aku pun menjawab “jangan salahkan aku, ini kulakukan karena aku ingin bahagia dan tak bisa bersamamu lagi, karena kamu tak pernah percaya aku dan meninggalkan aku, aku cukup bahagia dengannya sekarang”
Sejak saat itu kami tak saling mengetahui lagi, bagiku luka yang pernah terukir itu sangatlah menyakitkan hatiku, seperti luka yang diberi air laut yang asin begitu perih dan sakit, ketika dia lebih percaya orang yang salah.
Sekarang aku cukup menjadikannya masa laluku, karena aku ingin bahagia dengan masa depanku yang sekarang bersama orang yang kusayang.
Saat lamunan terus terbayang aku dikagetkan dengan dering HPku ternayata arifin nelepon lagi. Kucerita kan semuanya, aku bahagia bisa milikin arifin karena dia sangat mengerti dan memahami hatiku.
Aku bersyukur pada TUHAN karena menggantikan seseorang dengan orang yang begitu sayang padaku.
“AKU SAYANG KAMU ARIFIN” karena cinta pertama bukanlah cinta terakhir.
Cerpen Karangan: Reysa Novitri
Facebook: Rere Rn
Cinta Pertama Bukan Cinta Terakhir
4/
5
Oleh
Unknown
