Kaukah Ayah?

Baca Juga :
    Judul Cerpen Kaukah Ayah?

    Aku hidup di antara seorang malaikat tak bersayap dan dua orang pendekar yang menjagaku. Aku bahagia memiliki mereka. Sudah hampir belasan tahun aku tidak merasakan kehadiran sosok ayah. Aku hanya bisa mendengar cerita dari teman-temanku yang mempunyai ayah. Dalam kisahnya, mereka melalui hari bersama. Bermain bersama, mengerjakan pr bersama dan menonton tv bersama. Sungguh bahagia akhir cerita itu. Atau aku melihat dari sinetron yang disugukan di layar kaca. Kisah antara seorang ayah dan anak menjalani hidup bersama dalam suka dan duka. Sungguh sosok ayah yang bertanggung jawab. Tapi aku tak pernah merasa iri kepada mereka yang memiliki seorang ayah. Aku sudah memiliki makhluk yang lebih dari seorang ayah. Ya! Dia yang kusebut malaikat tak bersayap adalah ibuku. Dia sosok pengganti ayah bagiku. Segala hal ia mampu lakukan. bahkan hal yang mampu dilakukan kaum ayah dan yang tak mampu dilakukan kaum ayah, ibuku mampu melakukannya. Sebuah kebahagian luar biasa Tuhan mengirimkannya untukku.

    Setiap orang pasti memiliki titik jenuh tapi kita tidak tau kapan titik jenuh itu sampai pada kejenuhannya. Selama ini ibuku mampu mengatasinya sendiri. Segala hal ia lakukan sendiri. Mulai dari biaya sekolah, biaya makan, urusan rumah tangga, urusan usahanya, pekerjaannya ia mampu menghadapinya sendiri. Semua ini demi kami anak-anaknya. Biarpun itu siang berganti malam, malam berganti siang tak masalah baginya itu semua demi masa depan anaknya.

    Di usiaku yang ke 14 tahun, ibu memutuskan untuk menikah lagi karena ibuku sudah mencapai titik jenuhnya. Ibuku sudah tak mampu lagi menjalankannya sendiri. Awalnya aku menolak. Namun lelaki itu mampi merebut semuanya. Menginjakkan kakinya di rumah kami tanpa persetujuan kami. Saat itu aku dan kedua abangku yang usianya dua tahun lebih tua dari aku hanyalah seorang bocah polos yang tak mengerti ibunya diambil alih oleh orang lain.

    Awal kisah memang manis seperti minuman yang ditambahkan pemanis buatan. Manisnya di mulut pahitnya nyangkut di kerongkongan. Namanya juga pemanis buatan, jelas semuanya hanya buatan. Tak tersangkaku, sama saja seperti ayah yang sebelumnya. Tak bertanggung jawab. Mengkhianati cinta dan ketulusan dari seorang wanita. Merasa tidak puas dengan satu wanita. Apakah itu sebenarnya sosok ayah? Sebagai wanita ibuku hanya bersabar berharap lelaki itu akan berubah. Berubah apa?! Hanya omong kosong! Sekali lagi kutemukan sifat ayah sebenarnya. Tak mampu menafkahi keluarga yang dipimpinnya. Mengungkit apa yang ia berikan kepada kami. Megusir kami dari rumah kami yang jelas nyata rumah ini didirikan bersama. Apa ini sebenarnya watak ayah yang real di dunia? Apa tak bisa ayah membahagiakan ibuku? Tak mampu! Untuk membahagiakan ibuku saja kau tak mampu apalagi menafkahi kami. Mungkin kau meminta belas kasihan dari toke-toke terminal. Biarkan saja itu tak menjadi urusanku. Yang harusnya aku urus adalah, tidak seharusnya kau memukul ibuku di depan mataku. Bukan ini yang kumau. Apa ini caramu membahagiakan ibuku? Seperti binatang yang tak punya perasaan dan hati nurani. Apa pantas kau kusebut manusia? Kurasa binatang enggan mengakui kau satu ras dengannya. Bahagia? Keluarga ini bahagia? Ya! Sangat bahagia bahkan sanking bahagianya setiap hari hanya merasakan airmata lara.

    Berbagai macam ayah yang kutemui dari sisi kehidupanku. Ayah yang meninggalkan anaknya begitu saja dan tak mengakui keberadaan anaknya. Ayah yang tak menfkahi istri dan anak-anaknya. Ayah yang menikah lagi setelah ditinggal mati istrinya. Ayah yang tak menjalankan kewajibannya sebagai pemimpin keluarga. Ayah yang hanya tau j*di dan mabuk-mabukkan. Semua sisi pandanganku telah penuh dengan pemandangan yang membuatku trauma mencintai seorang lelaki. Cerita mereka hanyalah sebuah fiktif belaka. Dan semua yang berperan sebagai ayah dalam cerita itu hanyalah peran saja dan tidak nyata dalam sisi pola pikirku. Semua tersusun dalam skenario yang direncanakan dan peran ayah yang mulia bisa diperankan.

    Aku adalah gadis yang ingin memiliki kebahagian yang utuh bukan kebahagian yang buntu dan tak sampai pada titik kesempurnaanya. Aku ingin memiliki seorang ayah yang persis seperti sinetron-sinetron itu. Itu adalah mimpiku dahulu setelah ditinggalkan oleh ayah kandungku sejak umurku 1 tahun. Dan sekarang ia tak mengakuiku sebagai seorang anak. Mungkin dia lupa kalau dia pernah menjalin hubungan dengan wanita sederhana dan menghasilkan anak kembar laki-laki dan seorang perempuan. Semoga Allah selalu menjaganya. Mimpiku sekarang, aku tak ingin mempunyai ayah. Aku ingin hidupku kembali seperti semula. Andai waktu bisa diputar seperti memutar OREO. Sangat mudah!

    Cerpen Karangan: Elsa Dwitri
    Facebook: EL-Shawitri

    Artikel Terkait

    Kaukah Ayah?
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email