Judul Cerpen Bungkam
Bogor tidak berubah hari ini. Sejuk di pagi hari, siangnya orang-orang akan mengumpat karena terik membakar, namun sorenya hati akan lega karena hujan yang jatuh dari langit. Tidak ada yang berubah, kecuali sikapmu. Segalanya akan lebih mudah jika kita saling berbicara. Namun, kau robek bibirmu dengan bungkam yang membuatku dipenuhi ribuan pertanyaan.
Kau marah; kau sedih; aku bersalah. Itu kesimpulanku dari sikapmu. Dan, ya, aku meminta maaf. Jika ada hal yang paling kuingini: senyummu. Bukan dingin seperti ini. Aku sedang tidak berlibur ke Kutub Utara. Atau Alaska. Aku di sini, di hadapanmu. Ini tidak seperti dirimu.
Menangis tidak akan pernah menyelesaikan, jika bungkam yang kau ciptakan tak kunjung dihunus. Katakan saja. Aku sudah menghamba, dan kau masih saja berderai air mata. Kesedihan itu mengalir melalui kaca jendela perasaan, jatuh ke pelukan lantai kenangan.
Aku benci teka-teki, dan kau baru saja memberiku satu. Aku mengenggam sebuah kotak jawaban bernama apology yang kaupikir kosong. Kau lebih suka bertahan dengan teka-teki itu.
Lalu apa maumu?
Aku tidak ada pilihan. Kamu atau aku, yang akan membunuh bungkam itu. Maka untuk terakhir kalinya aku berlutut di hadapanmu, meminta maaf. Diam masih meliuk di antara kita. Pada akhirnya, diputuskan aku sendiri yang akan membunuh bungkam itu. Tepat, ketika napasmu tak lagi terdengar, dan suara kelotak peluru baru saja ditembakkan, terdengar. Kini, tidak hanya bibirmu bungkam, tapi dirimu seutuhnya.
Wajahmu kosong. Aku benar-benar membunuh bungkam darimu.
Cerpen Karangan: Ariqy Raihan
Blog: ceritadibaliksenja.wordpress.com
Bogor tidak berubah hari ini. Sejuk di pagi hari, siangnya orang-orang akan mengumpat karena terik membakar, namun sorenya hati akan lega karena hujan yang jatuh dari langit. Tidak ada yang berubah, kecuali sikapmu. Segalanya akan lebih mudah jika kita saling berbicara. Namun, kau robek bibirmu dengan bungkam yang membuatku dipenuhi ribuan pertanyaan.
Kau marah; kau sedih; aku bersalah. Itu kesimpulanku dari sikapmu. Dan, ya, aku meminta maaf. Jika ada hal yang paling kuingini: senyummu. Bukan dingin seperti ini. Aku sedang tidak berlibur ke Kutub Utara. Atau Alaska. Aku di sini, di hadapanmu. Ini tidak seperti dirimu.
Menangis tidak akan pernah menyelesaikan, jika bungkam yang kau ciptakan tak kunjung dihunus. Katakan saja. Aku sudah menghamba, dan kau masih saja berderai air mata. Kesedihan itu mengalir melalui kaca jendela perasaan, jatuh ke pelukan lantai kenangan.
Aku benci teka-teki, dan kau baru saja memberiku satu. Aku mengenggam sebuah kotak jawaban bernama apology yang kaupikir kosong. Kau lebih suka bertahan dengan teka-teki itu.
Lalu apa maumu?
Aku tidak ada pilihan. Kamu atau aku, yang akan membunuh bungkam itu. Maka untuk terakhir kalinya aku berlutut di hadapanmu, meminta maaf. Diam masih meliuk di antara kita. Pada akhirnya, diputuskan aku sendiri yang akan membunuh bungkam itu. Tepat, ketika napasmu tak lagi terdengar, dan suara kelotak peluru baru saja ditembakkan, terdengar. Kini, tidak hanya bibirmu bungkam, tapi dirimu seutuhnya.
Wajahmu kosong. Aku benar-benar membunuh bungkam darimu.
Cerpen Karangan: Ariqy Raihan
Blog: ceritadibaliksenja.wordpress.com
Bungkam
4/
5
Oleh
Unknown
