Letter, Untukku 10 Tahun Yang Akan Datang

Baca Juga :
    Judul Cerpen Letter, Untukku 10 Tahun Yang Akan Datang

    Ciit… ciit… ciit…
    Suara decitan sepidol terdengar sangat menyakitkan. Rumus rumus yang membuatku mulas. Dan atmosfer yang berat dari kelas. Kapankah hal ini akan berakhir?

    “Sekarang bapak akan membagikan hasil ulangan fisika yang sebelumnya.” Ucap pak Akhmad guru Fisikaku. “Dan yang tertinggi kali ini…” Lanjut pak Akhmad membuat jantung siswanya berdegup sangat cepat.

    “Dan yang tertinggi kali ini… Dimas.” Ucap pak Akhmad. Sontak mataku langsung melotot. Bagaimana tidak? Aku sudah bekerja keras untuk ulangan ini. Dan biasanya juga aku yang mendapat nilai tertinggi. Kesal rasanya, tapi bagaimana bisa aku protes? Dimas juga berusaha keras untuk nilai itu. Toh memang dia anaknya cerdas.

    Terdengar suara riuh tepuk tangan para siswa dan juga pak Akhmad. Di sudut ruangan, terlihat Dimas terlihat tersipu malu. Aku melirik Dimas dengan tatapan sebal. Tepat setelah itu, bel istirahat terdengar dan pak Akhmad harus mengakhiri pelajaran ini.

    Pandanganku tidak lepas dari Dimas yang masih dikerubungi teman teman. Mungkin sekedar bertanya, mengucap selamat, atau mungkin mencocokan jawaban. Rasanya sebal.

    “Hey, Rima! Dari tadi ngliatin Dimas terus.” Ucap Tira yang tiba tiba datang. Mungkin dia sadar tentang tingkah lakuku.

    “Nggak apa apa, hanya sebal.” Ucapku sambil mengalihkan pandanganku.

    “Sebal karena dia ngalahin kamu, atau karena kamu masih nggak mau terima kalau kamu sebenarnya suka.” Ucap Tira sambil tersenyum.

    “Benarkah? Apa aku suka sama dia?” Tanyaku berpura pura.

    “Ya. Kalau tidak, kenapa kamu selalu neror dia. Terus maksa minta nomor hpnya dengan mengatas namaku?” Ucapnya. Aku terkejut dengan apa yang Tira katakan. Apalagi itu semua adalah fakta.

    “Siapa yang bilang?” Ucapku malu malu.

    “Kamu nggak perlu tahu.” Ucap Tira sambil tersenyum.

    “Sudahlah, jujurlah pada dirimu sendiri. Kamu ingat waktu suka sama Rizal? Gara gara kamu nggak jujur sama dirimu sendiri, akhirnya Rizal jadi pacarnya Andita. Padahal ya, kalau kamu jujur sama Rizal, mungkin aja kamu yang jadi pacarnya.” Tira mengingat ingat semua kejadian ku. Ya, aku menyesal sih memang. Tapi mau bagaimana lagi?

    Ting… tong… suara bel berbunyi, membuat pembicaraanku dan Tira terhenti. Ini adalah jam untuk Bahasa Indonesia. Mata pelajaran yang tidak aku sukai. Merangkai kata bukanlah keahlianku. Makanya aku tidak menyukai pelajaran ini.

    10 menit setelah bel, seorang guru muda memasuki kelas kami. Itu adalah guru bahasa Indonesia kami. Dia adalah guru baru dan beliau mulai mengajar disini sebulan yang lalu. Dia disini untuk menggantikan guru kami yang lama yang telah pensiun. Dia bernama bu Arum.

    Dengan tampang tergesa gesa ia melangkah ke arah papan tulis. Kemudian, ia mengambil 1 buah spidol. Dan dituliskanlah “MASA DEPAN”. Mungkin itu adalah tema untuk pembelajaran kali ini.

    “Anak anak, maafkan ibu karena tidak bisa menemani pembelajaran kalian hari ini soalnya ibu ada rapat hari ini.” Ucap bu Arum dengan nada bersalah. Seperti siswa pada umumnya, para siswa nampak antusias dengan adanya jam kosong ini. Wajah bu Arum nampak sama, beliau nampak masih tersenyum. Mungkin dia sudah terbiasa.

    “Tapi, ibu ada tugas buat kalian.” Ucap bu Arum. Terdengar suara keluhan siswa yang menyerupai suara paduan suara. “Buatlah entah itu cerita, puisi atau apapun mengenai masa depan kalian. Tapi harus ditarget untuk 10 tahun yang akan datang atau mungkin 20 tahun yang akan datang. Itu terserah kalian. Dan tugas itu harus selesai dan harus dikumpulkan hari ini. Saya akan tunggu hingga jam terakhir.” Lanjut bu Arum.

    Pupuslah harapan siswa kelas 2-ipa-3 ini untuk bersantai. Dalam waktu yang singkat, suasana kelas jadi riuh. Semua nampak berpikir apa yang akan mereka perbuat. Mungkin juga termasuk aku.

    “Rima, kamu mau buat apa? Puisi? Atau mungkin cerpen? Atau mungkin yang lain?” Tanya Tira yang tiba tiba berada di depanku. Aku mengangkat bahu.

    “Aku tidak tahu. Mungkin akan sulit jika kujadikan puisi dan mungkin akan lama jika membuat cerpen. Aku juga tidak bisa membayangkan aku dimasa depan.” Ucapku sambil mengetuk ngetuk mejaku.

    “Hm… kalau begitu aku coba cari inspirasi ah… kurasa dengerin lagu bisa membuat kita berkhayal sesuatu.” Ucap Tira dan langsung pergi meninggalkanku.

    Aku masih memikirkan ucapan Tira. “dengerin lagu? Hm… mungkin bisa dicoba…”. Aku mengambil handphone dan juga headsetku. Aku membuka lagu dengan judul “letter”, hm… katanya, itu lagu yang menceritakan tentang seseorang yang menulis surat kepada dirinya sendiri dimasa depan. Aku tidak mengerti kalimatnya. Tapi sepertinya aku dapat ide.

    1 MINGGU KEMUDIAN…
    1 Minggu setelah aku mengerjakan tugas Bahasa Indonesia itu. Sekarang kepalaku terasa ringat. Seperti semua beban telah keluar dari kepalaku.

    “Hey, sang juara kelas nggak boleh lemes dong…” Ucap Tira tiba tiba. Aku mengangkat kepalaku. Terlihat wajah cantik Tira sedang menatapku.

    “Hm… aku nggak lemes kok. Hanya sedang santai.” Ucapku pada Tira.

    “Mungkin kamu akan semangat jika aku ceritakan ini.” Ucap Tira penuh misteri. Aku mendekatkan kepalaku. Kurasa aku mulai tertarik.

    “Teks terbaik akan segera diumumkan. Dan harus dibacakan di depan kelas.” Jelasnya. Aku tercengang. Tidak kuduga akan seperti ini. Padahal ini seperti aku menceritakan semua uneg uneg ku. Semua rahasiaku sekarang ada disana.

    “Aku memberitahu ini karena sepertinya kau akan senang jika aku beritahu tentang ini. Habisnya, baru kali ini aku melihatmu bersemangat membuat karya tulis.” Lanjutnya.

    “Seharusnya kamu tidak memberitahu ku!!!” Ucapku setengah berteriak.

    Ting… tong…

    Bel masuk berbunyi. Ini seperti sinyal bahaya bagiku. Aku melihat ke arah Tira. Dan ternyata Tira sudah tidak ada di depanku lagi.

    Terlihat bu Arum memasuki kelas dengan setumpuk lembaran kertas. Dia nampak tersenyum cerah. Berbeda dengan 1 minggu yang lalu. Kali ini wajahnya sangat santai.

    “Ya, anak anak. Hari ini, ibu mau kalian membaca hasil karya kalian di depan teman teman kalian. Sebelumnya terima kasih karena menjalankan tugas dengan baik.” Ucap bu Arum. “Ibu akan memanggil kalian sesuai dengan hati ibu. Tapi, yang terbaik tetap ada di paling akhir.” Ucap Bu Arum.
    Satu demi satu murid dipanggilnya.

    Terkadang ada yang lucu, ada yang biasa, ada yang bagus. Dan yang menyaksikan terkadang menertawakan apa yang dibaca oleh siswa tersebut. Itu membuatku semakin khawatir. Sementara itu, milikku tidak disebutkan dari tadi.

    “Ya, untuk yang terakhir. Silahkan absen 9 Arima Widiastuti.” Ucap Bu Arum. Apa itu artinya punyaku yang terbaik. Dengan rasa grogi, takut dan bangga. Aku maju ke depan. Karena aku yang terakhir, semuanya jadi memperhatikan aku.

    “Punya Arima ini sangat menarik. Isinya bukan cerpen ataupun puisi. Tapi surat untuk dirinya sendiri. Sehingga, karya Arima ini begitu mendalam.” Ucap bu Arum. “Silahkan.”

    Untukku 10 tahun yang akan datang

    Hey, aku yang berusia 26 tahun.
    Bagaimana keadaanmu sekarang? Apa kamu telah menyelesaikan kuliahmu? Ataukah kamu sudah bekerja? Disini, aku tengah berjuang untuk mewujudkan apa yang aku inginkan. Apakah hal itu sudah tercapai? Ataukah berbeda?

    Untukku yang berusia 26 tahun. Masihkah kamu menyukai sains dan membenci sastra? Disini aku tidak mahir dalam membentuk sebuah kata. Apakah kau masih sama?

    Untukku yang berusia 26 tahun. Diusiaku yang ke 14 aku menyukai seseorang. Tapi karena sifatku yang tertutup, aku tidak bisa mendapatkannya. Dan diusiaku yang ke 15, aku menyukai seseorang. Dan sampai usia 16 aku tetap tidak bisa jujur pada perasaanku. Aku berpura pura membencinya. Apakah diusia 26 juga akan seperti itu?

    Temanku diusia 16 tahun pernah berkata, “jujurlah pada dirimu sendiri”. Apakah kamu sudah mempraktekkannya? Kurasa akan susah. Tapi, bisakah kau jujur pada dirimu sendiri.

    Disini, diusiaku 16 tahun terlalu berat. Dan terkadang aku menangis karena hal itu. Bisakah diusiaku yang ke 26, aku dapat mengubah air mataku itu menjadi kenangan manis yang tidak akan kulupakan. Dan mungkin akan kuceritakan kembali kenangan itu pada teman teman dan keluargaku nanti.

    Kelas sunyi dalam sekejap. Lalu kemudian suara tepuk tangan serentak mewarnai kelas. Bahkan ada yang bersiul.

    “Waah… hebat…” Teriak seseorang.

    “Cie… yang lagi suka sama seseorang…” Teriak salah satu murid yang lain. Tidak terasa tersirat rasa bangga dalam batinku. Aku berjalan ke tempat dudukku dengan kepala agak tertunduk malu.

    “Apakah kamu diusia 26 tahun akan mengingat kejadian ini?” Tanya Tira tiba tiba setelah dia menghentikanku.

    “Ya, kurasa dia akan mengingatnya.” Ucapku sambil tersenyum. Ya, kurasa dia akan teringat tepuk tangan pertamanya dalam membacakan karya sastra terbaik yang pernah ia buat.

    Cerpen Karangan: Farani Nabila

    Artikel Terkait

    Letter, Untukku 10 Tahun Yang Akan Datang
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email